Saturday, December 27, 2014

Nyantri Di Russia : Dimarahi Kakek-kakek

Dimarahi kakek-kakek.

            
Karena masjid masih baru, pengurus masjdi menggantungkan
sajadah sebagai penunjuk arah kiblat.
Singkatnya, muadzin utama masjid jami’ nur usman berhalangan hadir. Akhirnya dicari muadzin dadakan. Hari itu aku duduk disamping sang imam yang tidak lain adalah Ruslan, teman ku. Akhirnya Ruslan meminta ku untuk mengumandangkan adzan. Dan aku menyanggupi permintaannya. Adzan pun terucap dengan lagu dan gaya khas Indonesia.
            Setelah sholat jumat selesai, satu orang kakek berumur kira-kira enam puluh tahun menghampiri sambil menarik tangan dan memarahi ku.
            Kakek ini termasuk jama’ah baru. Aku tidak pernah melihat kakek ini sebelumnya. Hari pertama dia datang pun, dia sudah membuat olah dengan meminta pengurus masjid mecopot sajadah yang tergantung di tembok. Dia beralasan, bahwa jika sajadah tergantung di tembok, maka sama saja kita menyembah sajadah.
            Kemudian ada jamaah yang menjawab, “Berarti kita harus membuka dinding juga? Biar tidak dianggap menyembah dinding.”
            Sebenarnya, pemasangan sajadah di tembok bertujuan sebagai penunjuk arah qiblat karena masjid ini tergolong baru dan masih sederhana. Belum banyak orang yang tahu kemana arah Qiblat.
            Kembali ke kisah ku bersama lelaki tua tadi. Si kakek dengan nada tinggi berkata bahwa adzan yang aku baca tadi tidak sah. Alasannya, karena ketika mengucapkan hayya ‘ala solah dan hayya ‘alal falah aku tidak menghadap ke kanan dan ke kiri.

Nyantri di Russia : Musim Semi; Jalanan Russia Kotor

Musim Semi; Jalanan Russia Kotor
             
              
Jalanan Russia saat musim semi.
Perbedaan dengan saat musim dingin (  Desember – Februari), dimana jalanan tertutup putihnya salju. Musim semi, gunungan salju yang tertumpuk di sepanjang pinggiran jalan – jalan mulai mencair. Hal ini membuat jalanan menjadi basah, kotor dan becek.
              Sekarang, matahari pun tidak segan lagi untuk menampakkan dirinya. Pukul 06.00 waktu setempat, kita sudah bisa merasakan hangatnya matahari. Kontras dengan bulan-bulan musim dingin, matahari baru muncul setelah pukul Sembilan dan akan terbenam sebelum pukul empat.
              Di jalanan, suhu sudah mulai naik. Sekarang sudah mulai minus 5 sampai 0 derajat celcius. Dari atap-atap rumah sudah mulai menetes air. Kita harus lebih berhati-hati jika berjalan di samping apartement, karena terkadang bongkahan es besar jatuh secara tiba-tiba.

Nyantri di Russia : Menyambut Musim Semi

Menyambut musim semi

Tidak seperti hari - hari di musim dingin yang terlihat sedih, hari – hari musim semi mulai terasa cerah. Orang-orang Russia mengistilahkan, bahwa musim semi adalah waktu dimana alam mulai terbangun dari tidurnya. Di musim semi inilah matahari mulai bersinar lagi. Orang-orang menganggap, sinar matahari adalah anugrah karena selama tiga bulan lalu (musim dingin) langit Russia selalu mendung tanpa matahari.
            Masyarakat pun menyambut kedatangan musim semi dengan gembira. Di saat-saat seperti inilah taman kota menjadi tempat paling favorit untuk dikunjungi.
Di hari libur, sejak pagi hari taman-taman kota sudah terlihat rame. Tampak beberapa orang tua mengajak putra-putri mereka melakukan jogging menulusuri jalan-jalan setapak yang dinaungi pohon ___ yang menjulang, atau sebagian mereka berlari mengelilingi lintasan stadion yang terletak ditenga-tengah taman. Taman-taman kota menjadi tempat olahraga murah meriah. Sungguh penataan kota yang sangat indah. Selain kebijakan pemerintah, kepedulian masyarakat dalam menjaga dan merawat taman pun sangat tinggi. Sungguh, aku berharap, hal ini ada di Indonesia.
Sebelum jogging atau lari pagi ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Diantaranya, kita masih tetap harus memakai jaket tebal dan shapka[1]. Sedangkan untuk kaki kita harus memakai celana dobel atau kaos kaki tebal.

Nyantri di Russia : Berartinya Menjadi Muslim Setelah di Russia

Berartinya Menjadi Muslim Setelah di Russia

            Terlahir di Indonesia, di tengah keluarga muslim, mudah mengenyam pendidikan agama, hidup di pesantren dan di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama islam ternyata bisa mengurangi “manisnya” iman dan islam.
            Mengapa aku bisa berkata seperti itu? Karena dengan situasi dan kondisi diatas, maka hidup sebagai seorang muslim akan terasa sangat mudah. Seseorang jika terbiasa hidup mewah dan enak, maka tidak akan tahu bagaimana nikmatnya hidup. Seperti ungkapan kuno, seseorang akan  tahu nikmat sehat setelah ia merasakan sakit.
            Sebagai contoh, di Indonesia, seorang Muslim, bisa melaksanakan sholat kapan saja dan dimana saja. Di pasar, sekolah, rumah sakit, terminal bahkan di jalanan pun orang bisa sholat. Suara adzan akan dikumandangkan di setiap waktu. Dari sini, banyak orang kemudian sering menggampangkan sholat.
nanti saja sholatnya,” suatu ungkapan ringan.
            Untuk urusan makan, setiap muslim bisa masuk kemana saja karena (bisa dipastikan) 99% rumah makan di Indonesia tidak menyediakan babi dll (kecuali daerah yang mayoritas non muslim.) Paling tidak, sembelihan seorang muslim sudah dianggap halal menurut salah satu pendapat ulama. Meskipun demikian, sebagai muslim kita harus lebih menjaga sikap wira’i (kehati-hatian) kita.

Friday, December 26, 2014

Nyantri di Russia : Yekaterinburg Sholat Jum’ah dalam Beku.

Yekaterinburg Sholat Jum’ah dalam beku.

Jum’at (18/2), matahari memang bersinar terang. Namun hal itu belum mampu untuk menghangatkan suhu Yekaterinburg yang berada pada kisatan minus 25 derajat.
            Di jalan pertigaan jalan Chapaeva – Dekabirstov terlihat beberapa orang membuka pintu gerbang yang terbuat dari kayu. Ya, mereka adalah jamaah yang ingin menunaikan sholat jum’at. Tepat di pertigaan jalan Chapaeva dekabirstov terdapat masjid kecil yang masih dalam tahap rencana ingin dijadikan sebuah sabornaya mechet[1].
           
Jama'ah Yang sholat diatas tanah bersalju.
Masjid yang berada di jalan ini diberi nama “Nur Usman” . Dia memiliki ukuran 7 X 12 m2. Dibuka pada musim gugur 2010 oleh mufti Russia Rovil Gainuddin. Dan sampai sekarang masjid ini baru mampu menampung sekitar 150 jamaah saja.
            Jamaah sudah berdatangan sejak pukul 11.00 waktu setempat (satu jam lebih lambat dengan waktu Indonesia bagian barat). Sebelum sholat dimulai, sambil menunggu jamaah berkumpul, seperti biasanya, ada salah satu jamaah yang bertugas memperdengarkan surat yasiin dan tabarak.

Nyantri di Russia : Mahalnya Kantong Plastik di Russia

Mahalnya Kantong Plastik di Russia

            Biasanya, untuk berbelanja peralatan rumah tangga kita mengandalkan Mega, pusat perbelanjaaan yang terletak lumayan jauh dari kota. Dari asrama kami harus jalan kaki sekitar 20 menit untuk sampai ke Halte dimana kita bisa mendapatkan bis jemputan gratis yang akan mengantarkan kita sampai ke Mega.
            Perjalanan ke Mega kurang lebih 45 menitan. Meskipun terkesan jauh namun kita bisa menikmati perjalanan. Dari menikmati pemandangan hutan, atau pun sambil memperlancar bahasa dengan mendengarkan orang Russia bercakap-cakap.
            Terus terang aku belum ada keberanian untuk mengajak berbincang dengan orang Russia yang ada di bis. Sampai saat ini image orang Russia masih belum bersahabat bagi aku. Tidak seperti di Cairo, disana orang pribumi dengan familiar dan hangatnya menyambut setiap mahasiswa asing.
            Sebelum berbelanja, salah satu senior mengingatkan kami untuk membawa plastik sendiri dari asrama agar nantinya tidak perlu membeli lagi. Aku berpikir, apakah di Russia tidak ada pabrik plastik, sampai-sampai swalayan pun harus menjual kantong plastik.
            Setelah belanjaan dirasa cukup kami pun langsung menuju ke kasir. Antrian sangat panjang. Sangat maklum karna memang di Mega, harganya lebih miring diibanding harga-harga di supermarket yang ada di Kota.
            Setelah tiba giliran penghitungan biasanya kasir akan bertanya kepada Pembeli, “paket vam nujno?”[1]

Nyantri di Russia : Tradisi Muslim di Pedesaan Tatarstan

Kehidupan Muslim di Desa

            Sekitar 137 kilometer dari ibu kota Tatarstan, terdapat sebuah kota kecil bernama Bua (Buinsk).  Seperti lazimnya kota kecil yang lain, Bua sangatlah sepi. Transportasi di kota ini pun jarang kita temui. Jika ingin bepergian ke suatu tempat, kita bisa naik taksi atau ojek mobil.
            Di pusat kota kecil itu, terdapat tiga masjid besar. Di antaranya Masjid Nuriya, salah satu masjid tertua yang ada di kota Bua, umurnya sudah lebih dari 205 tahun. Masjid itu dibangun pada 1805 M oleh Gabdulvalib bin Gabdurrahman al-buavi. Sekarang, selain sebagai masjid dan madrasah, masjid ini juga menjadi play group.
            Seperti di kota Kazan, di desa Bua pun juga terdapat toko-toko yang menjual makanan halal. Biasanya, di pintu masuk toko, mereka akan menuliskan kata "Halal", baik dalam huruf Arab maupun Rusia. Penulisan kata halal di pintu ataupun tembok bagian luar dari sebuah toko sangatlah penting. Hal ini untuk memberitahukan kepada masyarakat karena suplai daging yang cocok untuk Muslim sangatlah jarang.

Tradisi Muslim Tatarstan
           
Ramil Hazrat sedang meng-adzani bayi.
Masyarakat Muslim Tatarstan yang tinggal di perkotaan serta pedesaan masih memegang tradisi-tradisi Islam dengan kuat. Contoh sederhana, jika bertemu dengan seseorang di mana pun (di masjid ataupun ketika bertamu), setelah salaman, tradisi mereka akan mengangkat tangan, berdoa semoga pertemuan itu penuh berkah. Begitu juga ketika hendak berpisah.
            Di kota kecil Bua, misalnya, majelis taklim juga masih rutin diadakan. Biasanya diadakan sehabis shalat Isya dan setiap malam Jumat digelar pengajian pekanan. Setelah majelis selesai, jamaah beramah-tamah sambil menikmati teh panas.

Thursday, December 25, 2014

Nyantri di Russia : Warisan budaya islam di Tatarstan

Warisan budaya islam di Tatarstan

            
Masjid Kul Sharif, Kazan, Tatarstan.


Di tengah hujan salju yang mengguyur pada Februari 2011, Alhamdulillah, aku menemukan jejak suara Allah SWT di salah satu negara federasi Rusia bernama Tatarstan. Republik Tatarstan adalah salah satu negara federasi Rusia yang terletak 799 km di sebelah tenggara Moskow, ibu kota Rusia.
            Selain Dagestan dan negara-negara Kavkaz[1]  Tatarstan dikenal sebagai pusat kebudayaan Islam di negeri Beruang Merah. Tatarstan dihuni oleh sekitar dua juta etnis Tatar (etnis asli Tatarstan) dan sekitar satu juta etnis Rusia. Negara ini menggunakan dua bahasa, Rusia dan Tatar.
            Bahasa Tatar bisa dibilang sebagai peranakan dari bahasa Turki. Yang dalam literaturnya, kemudian banyak ditemukan kesamaan kata dengan bahasa Arab. Seperti kata Khal (dalam bahasa Arab berarti keadaan), sagadah[2] (dari bahasa arab sa'adah yang berarti kebahagiaan), waqt (waktu), serta masih banyak lagi.
            Tulisan kuno bangsa Tatarstan menggunakan huruf-huruf Arab yang di Indonesia dikenal dengan sebutan Arab Pegon (Arab Jawa yang diajarkan di pesantren-pesantren). Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mengenal Islam sejak lama. Kemudian, abjad tersebut diubah ke huruf cyrlic (abjad Rusia) pada masa kekuasaan Uni Soviet.

Nyantri di Russia : Solat Subuh di Tagansky Ryad

Solat Subuh di Tagansky Ryad

Pukul 06.30, langit masih gelap. Hawa dingin ditemani angin berusaha menembus celah-celah jendela kamar yang masih belum sempat aku solasi. Di radio disiarkan bahwa suhu udara hari itu minus 15 derajat. Orang Russia sangat bahagia dengan suhu tersebut karna satu minggu sebelumnya mereka ditemani oleh suhu antara minus 25 sampai minus 27 derajat celcius.
Pukul 7.30, dari jendela kamar kulihat langit masih gelap namun di jalan raya mobil sudah mulai rame pertanda orang-orang mulai berlari mengejar kehidupan.
Tiba-tiba telepon aku berdering. Satu panggilan masuk dari nomor yang tidak aku dikenal.
Assalaamu’alaikum,” salam pembuka aku ucapkan.
wa’alaikum salam, Najib kaifa Khal?”[1] sang penelepon bertanya tentang             kabar aku.
Sampai kalimat itu, suara dari seberang sana belum bisa aku kenali. Aku berpikir, mungkin kah sang penelepon adalah sahabat ku dari Mesir.
Aku mendengar dari arah seberang, terasa begitu berisik. Aku menanyakan kepada dia, dari mana dia menelepon. Dan mengapa terdengar begitu berisik. dia menjawab, dia sedang di tempat Kerja. Aku mulai bingung, siapa yang menelepon pagi-pagi begini?

Thursday, December 11, 2014

Nyantri di Russia : Malaikat di Taganski Ryad

Malaikat di Taganski Ryad

Taganski Ryad, adalah pusat pasar besar yang terletak di sebelah barat laut dari pusat kota Ekaterinburg. Jika di Cairo, Taganski adalah pasar ‘Atabah. Jika kita bawa ke Magelang, Taganskii bisa disamakan dengan pasar Rejowinangun, hanya saja, jika Rejowinangun terletak di pusat kota, Taganski Ryad terletak jauh dari kota.
Dari pusat kota ulitsa vosemo marta kita bisa naik bis nomer 57 atau angkot nomer 024. Jika lalu lintas lancar, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dengan Bis. Jika dengan angkot perjalanan bisa lebih cepat.
Pasar Tagansky bisa dibilang adalah pasarnya para imigran. Kebanyakan para pekerjanya adalah pendatang dari Cina, Uighur, Uzbekistan, Tajikistan, Kirkizystan, Azerbaijan bahkan dari Vietnam.

Nyantri di Russia : 100 hari di Yekaterinburg

100 hari di Yekaterinburg

          Sebenarnya hari ini (20/01) adalah hari ke 105 saya sampai di Russia. Tapi singkatnya saya tuliskan 100 hari. Banyakan orang bertanya, bagaimana saya bisa tahu tentang bilangan hari itu, apakah saya tidak betah segingga saya selalu menghitung perjalanan siang dan malam.
          100 hari pertama biasanya kinerja seorang pejabat akan banyak mendapat soratan dan penilaian. Karna saya bukan pejabat, ya… kewajiban saya menilai diri saya sendiri. Tapi bagi saya, saya adalah pejabat tuhan. Dengan anugerah yang diberikan setiap detiknya meskipun saya hanya berdiam diri. Ya saya merasa sebagai pejabat ruhan, karna saya adalah seorang “santri.”

Nyantri di Luar Negri
Seorang santri di hari pertama masuk pesantren selalu diminta untuk menata niatnya kembali, bahwa menuntut ilmu itu hanya karna Allah. Tidak usah diembel-embeli untuk menjadi apa atau siapa nantinya. Bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dimana atau dengan siapapun. Ya, santri adalah mereka yang penuh keihlasan dan kesiapan mental.

Nyantri di Russi : Hormat Haji

Hormat Haji

Selesai sholat jum’at saya dan beberapa jamaah tinggal sebentar di masjid untuk menunggu sholat asar. Setelah sholat asar saya langsung diajak oleh Ruslan. Seperti biasanya, setiap jumat sore saya selalu ikut Ruslan ke desa Oktyabirski untuk istirahat karena hari sabtu dan ahad kampus libur.
Seperti di Indonesia, jum’at adalah hari terakhir kerja, oleh karenanya banyak orang yang keluar kantor lebih awal dan menyebabkan jalanan menjadi macet.
Dari masjid kami menuju Himmaz, ke rumah Gulsina opa[1]. Disana kami solat maghrib bersama dan makan malam. Selanjutnya kami ngobrol sampai jam sembilan. Dari tema pembicaraan yang mereka lakukan saya sedikit paham, bahwa ternyata hari ini akan ada penerbangan jamaah haji dari Yekaterinburg.
Pukul  22.00 waktu Yekaterinburg, kami pergi ke vokzal[2]. Kami menjemput Tagir Bikchantaev, teman ruslan yang berasal dari kota Kamerovo. Dia adalah salah satu jamaah yang akan berangkat dari Yekaterinbrug.

Nyantri di Russia : Mesir - Indonesia - Russia

Mesir – Indonesia - Russia

          Seminggu ini banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan, hanya sekedar berbagi pengalaman merantau di negeri orang. Dan tulisan ini mungkin sebagai pelarian di saat rasa kangen kadang menyerang secara tiba-tiba.
          Meskipun sudah hampir dua tahun meninggalkan Mesir namun hati ini masih tetap merindukannya. Mesir dengan berbagi kekacauan administrasi yang ada di dalamnya tetap saja membuat hati ku terkesan dan ingin sekali bisa kembali lagi ke sana. Indonesia, dengan berbagai problematika hidup yang harus dihadapi tetap saja membuat ku kangen ketika aku sudah jauh darinya.
          Dari pengalaman hidup di Mesir dan Indonesia aku kadang mengambil kesimpulan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu (termasuk Negara) dengan ada kelebihan dan kekurangannya. Disana ada orang jahat, disana juga ada orang baik. Mungkin begitulah, di Mesir bukan hanya para nabi saja yang pernah tercatat dengan tinta emas, namun nama Fara’inah[1] juga terlukis manis di tembok-tembok peradaban Mesir.

Nyantri di Russia : Hakimyan Sharipov Hazrat


Seorang lelaki berumur sekitar lima puluh empat tahun masuk dan langsung menyapa kami sedang berkumpul.
-        Assalaamu’alaikum,” ucap laki-laki tersebut dengan senyum simetris terpasang di bibirnya.
Jamaah dengan serentak menjawab salam laki-laki yang menggunakan tyubeteika[1] hijau has etnis Tatar[2].
          Setelah pertemuan dengan jamaah selesai kami pergi ke masjid yang letaknya tepat di depan madrasah. Aku dan Ruslan memasuki masjid dan langsung menuju ruangan paling awal yang terletak di sisi sebelah kanan koridor. Ruangan tersebut adalah ruangan imam masjid.
          -  “O,iya ini Hakimyan Hazrat[3], dan ini Najib, Ruslan mengenalkan kami berdua. Kami pun bersalaman seperti layaknya orang yang baru berkenalan.  

Tuesday, December 09, 2014

Titik Nol 5 – SMS Mbak Ratna

Titik Nol 5 – SMS Mbak Ratna

Aku memutuskan keluar dari Jepara. Tidak satu pun teman yang aku kabari. Tidak mbak Risma sebagai sekretaris perusahaan, tidak pak Pur sebagai kepala Gudang, tidak juga pak Kamsan sebagai partner kerja ku kesana kemari. Semua tidak tahu sampai hari ketiga aku terus terang kepada pak Kamsan bahwa aku sudah tidak di Jepara lagi.

Some time feel give up to face the world,Brow…my live so hard but 4what? I must think easy to do…now,I see sunset, feeling so sad cause I hate to my self… I life alone so many time already, brow. Sorry, I am to be sharing to you. ‘( ok. Have fun brow, Magrib already, I will pray.
(15/11/2014)

Monday, December 08, 2014

Nyatri di Russia : Mengaji ke Oktyabr'ski

Mengaji ke Oktyabr’ski

Sekitar pukul sepuluh, bis kecil jemputan datang. Kami pun segera menaikinya dan meluncur ke desa Oktyabr’ski. Perjalanan dari Yekaterinburg sampai ke Oktyabr’rski kira-kira memakan waktu satu setengah jam karena ditengah perjalanan mobil harus berhenti di beberapa halte guna menaikkan beberapa jamaah yang mempunyai tujuan sama.
Perjalanaan ke desa Oktyabir’ski sungguh menyenangkan karena melewati pemandangan yang menakjubkan. Jika di kota kita hanya melihat apartemen atau gedung-gedung, maka sepanjang perjalanan ke desa kita akan melewati rumah-rumah mungil dan ladang yang sangat luas. Sungguh hijau. Tapi di dalam bis, aku hanya diam saja mengingat aku belum bisa berkomunikasi dan sesekali aku tersenyum jika ada orang yang menatap ku aneh.
Aku dan rombongan akhirnya sampai ditempat tujuan. Subhan Allah, ini kali ke dua aku melihat bangunan yang dihiasi dengan menara lengkap dengan symbol bulan dan bintangnya. Lelah dan bosan diperjalanan karena tidak bisa berkomunikasi dengan penumpang lainnya akhirnya terbayar dengan pemandangan ini.
“Ya! ini rumah-Mu ya Allah,” bisikku dalam hati.

Nyantri di Russia : Komunitas Muslim

Komunitas Muslim

Hari ketiga, minggu 10 oktober 2010.
            Hari Ahad, jalan raya yang tampak dari jendela kamarku terlihat begitu sepi. Mungkin hari ini adalah hari libur, jadi aktivitas pagi hari juga mati. Setelah sarapan pagi, aku tanya kepada teman sekamar arah ke octanovka tsirk. Setelah mendapatkan petunjuk dari dia, aku pun keluar asrama sekitar pukul 9.30 waktu setempat.
            Jalanan begitu sepi. Seingatku, sejak keluar dari asrama, aku hanya beberapa kali berpapasan dengan orang. Mobil pun sedikit yang berlalu lalang. Sungguh hari minggu pagi Yekaterinburg seperti kota mati. Tiba-tiba aku merasa merinding teringat cerita mafia di film-film, ah parno!
            Perasaan takut yang aku alami sangatlah wajat karena hari itu adalah baru hari ketigaku di Russia. Aku belum mengenal lingkungan yang sedang aku lalui, apakah termasuk jalan aman atau tidak. Mata ku menatap dengan tidak percaya diri.
            Mungkin karena santri, selama berjalan menelusuri trotoar aku tidak lupa untuk berzikir. “Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah wa la haula wa laa quata illa billah”. Sholawat juga tidak berhenti dari mulut ku. Sungguh ketakutan itu menyadarkan ku akan kebutuhan terhadap perlindungandari  yang Maha melindungi.

Nyatri di Russia: Sujud Syukur

Sujud Syukur

Sore itu, aku dan kawan-kawan masih berada IKEA. Meskipun terhitung refreshing alias jalan-jalan di pusat perbelanjaan, tapi aku tidak bisa menikmatinya. Aku masih mengharapkan bahwa akan ada saudara muslim yang menemui ku hari ini karena bagiku mempunyai teman yang “sehati” dan “sepemikiran” adalah penting.

***
Kami sedang menunggu taksi di area parkir IKEA saat telepon genggam ku bergetar, sebagai pertanda adanya panggilan masuk. Namun karena batereinya lemah, aku tidak bisa melihat nama pemanggil. Yang muncul di layar HP hanyalah kata-kata baterei lemah disertai bunyi peringatan, “tung”.
Karena tidak ingin battery semakin lemah, akhirnya aku angkat langsung meskipun tak tahu ID pemanggil.
Subhan Allah..!”, alkhamdulillah Ruslan menelpon.
-        “Najib, aku jam empat berangkat dari rumah, jika kamu sudah sampai asrama, sms aku !” begitu ucapnya di telepon.

#NyantriDiRussia : Ruslan Nurmametov

Ruslan Nurmametov

Hari ke dua sabtu, 9 oktober 2010
Kegalauan ku pun memuncak. Akhirnya aku berpikir untuk mengirim pesan singkat (sms) kepada salah satu teman Russia yang pernah pernah kenal semasa di Cairo. Namanya Romil Gizzatullin. Saat itu dia sedang berada di Cairo, melanjutkan pendidikan masternya.
Aku kirimkan pesan pendek ini :
“Romil, alhayah so’3bah fi Russia, maa fiisy adzn wa laa masjid, khudz ni[1]!!!” 
Tentunya Romil langsung bisa memahami bagaimana perasaan ku. Keadaan kota Yekaterinburg sangat jauh berbeda dengan keadaan kota Cairo. Di Cairo, adzan bisa terdengar setiap waktu dan masjid bisa ditemui hampir setiap beberapa meter. Dimana sesama saudara muslim bisa membuat janji untuk bertemu di masjid, berjamaah, belajar bersama dll.
Setelah pesan singkat terkirim, Romil langsung menelpon ku. Aku tidak bisa menahan rasa bahagia ketika di layar handphone-ku tertulis panggilan darinya. Ku angkat telephone sambil berterika, “Romiil!” .

Nyantri di Russia : Yekaterinburg

Yekaterinburg

Kami tiba di bandara Kol’tsovo Yekaterinburg sekitar pukul  22.00 waktu setempat. Penerbangan Moscow-Yekaterinburg memakan waktu sekitar dua jam. Suhu udara dingin, berkisar antara 10 derajat, membuat ku sempat merasakan kedinginan. Kami di jemput oleh mas Rakhman Ardi, mahasiswa program master psychology tahun terakhir di Ural State University[1].
Mungkin karena aku mempunyai latar belakang kehidupan santri, ketika keluar dari bandara menuju ke parkiran taksi,  aku teringat pesan salah satu guru yang biasa aku panggil Gus Zaky. Pesan beliau : “jika kamu memasuki suatu daerah baru maka berdoalah - wa qul robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’alli min ladunka sultonan nasiro -.[2]. Itu lah pesan yang aku terima ketika aku berpamitan minta restu kepada beliau.

Nyantri di Russia : Road to Russia

Road to Russia

Saat Transit di Doha.
7 Oktober 2010, dini hari pukul 00.10 waktu Jakarta, dengan tekat yang terasa berat aku meninggalkan Indonesia. Dalam penerbangan, berulang kali kembali ku kuatkan niat, bahwa aku ke Russia hanya untuk mencari ridho-Nya. Masih terngiang pesan ibu sewaktu melepas kepergian ku di terminal D2 Soekarno-Hatta. “Bismillah, Nang! niati semuanya untuk ibadah”, ucap ibu seraya memeluk ku sambil berlinang air mata. Pesawat yang membawa ku bersama rombongan mendarat di Doha sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Selanjutnya aku harus menunggu selama empat jam lagi untuk meneruskan perjalanan ke Moscow.

Nyantri di Russia : Prolog

Prolog

Ketika tinggal di asrama madinat al-bous al-islamiya, asrama dibawah naungan universitas Al-Azhar untuk mahasiswa asing, saya dekat dengan beberapa teman asal Asia tengah, seperti Azerbaijan, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan dan beberapa negara pecahan dari uni soviet lainnya. Selain itu saya juga dekat dengan beberapa teman yang negaranya masih masuk dalam anggota negara federasi Russia seperti Tatarstan, Baskhortostan, Dagestan, Chechnya dll.
          Selama bersahabat dengan mereka, kami sering bertukar pengalaman, bercerita tentang bagaimana islam dan muslim di negara masing-masing. Hal ini sangat menarik karena saya berinteraksi dengan saksi hidup secara langsung, bukan hanya buku atau berita.
          Dari obrolan yang berjalan sejak tahun 2006 sampai 2008 tersebut, saya menyimpulkan, bahwa menjadi seorang muslim di negara-negara bekas uni soviet atau pun Russia sangat susah. Oleh karenanya saya merasa tertantang untuk hidup sebagai seorang muslim di negara Russia. Dari situlah saya berkeinginan untuk belajar ke Russia.

Saturday, November 29, 2014

Titik Nol 3 : Merantau ke Jepara

Akhir bulan September aku mendapat info dari teman, bahwa ada lowongan kerja sebagai interpreter di sebuah perusahaan mebel di Jepara. Bosnya orang Russia yang. Aku mengiyakan tawaran tersebut dan akhirnya aku berangkat ke Jepara untuk survey.
Setelah aku tiba di Jepara dan bertemu dengan si Bos, aku langsung ditanya, “mau kapan bergabung?” Terus terang aku menjawab bahwa aku belum tahu apakah aku bisa bekerja di sini atau tidak karena aku baru pertama kali bertatap muka dengan Bos dan dia belum tahu apa pun tentang aku.
O iya, perusahaan itu adalah perusahaan mebel. Usaha export impor. Sang pengusaha mencari barang di Jepara kemudian menjualnya ke Russia. Dan info yang aku dapat, sang Bos (Arkadi Pillipenko) membutuhkan seorang penerjemah.
Sebagai test perekrutan, hari iku juga aku diajak bos jalan-jalan mencari barang. Distu tugasku sebagai media komunikasi antara bos dan pembeli – penterjemah.

Tuesday, November 18, 2014

Titik Nol 2 : Complicated

Semenjak “surat pengunduran diri” ku dikabulkan oleh Human Capital IIEC, otomatis per-tanggal 8 agustus aku sudah tidak bekerja lagi. Aku resmi menjadi pengacara (pengangguran banyak acara). Meski tidak ada kegiatan yang pasti namun aku belum memutuskan pulang ke kampong halaman. Aku masih menetap di Bekasi, di rumah saudara.
Ada dua agenda yang aku lakukan di Bekasi. Yang pertama, aku diminta menjemput teman asal Russia yang kuliah di UIN Malang pada tanggal 30/8 di Cengkareng. Jadi, tidak mungkin aku pulang ke Magelang lalu balik ke Jakarta lagi. Agenda ke-dua, aku ingin belajar membuka usaha mandiri, berdagang.

Titik Nol

Titik Nol 1

Setiap kejadian sudah tergaris oleh tangan yang Maha Kuasa. Begitu juga status ku saat ini. Sejak permintaan pengunduran diri ku dikabulkan pertanggal 8 agustus 2014, aku belum mendapatkan pekerjaan pengganti.
Meski berat, namun aku tetap harus tegar. Dengan satu keyakinan bahwa disana pasti ada suatu rahasia Tuhan yang sudah ter-setting dengan indah.
         

Saturday, August 23, 2014

Belajar Dari Kematian Karna

Karna akhirnya mati ditangan Arjuna. Sebelum kematiannya, karna sempat kehilangan segala kesaktian dan pengetahuannya. Dia tidak bisa menerima hal tersebut. Namun, Krishna berhasil menyadarkannya. Bahwa hal itu adalah pembalasan karena dia tidak menggunakan kesaktian yang dia miliki dengan sebaik-baiknya. Dan hal ini juga telah diingatkan oleh gurunya sendiri, Pashurama, bahwa suatu hari nanti kesaktiannya akan hilang.

Sebelum mati, Karna berdialog dengan Krishna.  Karna merasa tidak terima terhadap nasib. Pertama, dia diasuh oleh keluarga kusir yang tidak memungkinkan dia untuk mendapatkan apa yang bisa didapatkan oleh para putra brahmana. Kedua, Karna merasa selalu berbuat kebenaran dengan banyak membantu rakyat lemah. Dan pengabdiannnya kepada Duryodhana adalah bentuk balas budi karena kebaikan yang telah dilakukan oleh Duryodhan.

Monday, August 04, 2014

Pak Saripan, guru kehidupan ku.

Pak Saripan, paling kanan.
Sebelumnya, karena usia ku yang masih kecil, aku mengenalnya hanya sebatas nama dan tahu bahwa beliau adalah tetanggaku. Beliau seorang tentara yang bertugas di koramil Secang.
          Ketika usia ku menginjak remaja, aku mulai jauh dari rumah dan pulang hanya ketika liburan. Dan itu pun tidak pernah lama. Otomatis aku jarang ikut kegiatan-kegiatan remaja.
          Tahun 2008, aku pulang kampung dan mulai terlibat di beberapa kepanitiaan kegiatan remaja kampung. Di sini lah aku mulai mengagumi sosok pak Saripan.

Tuesday, February 11, 2014

MOHON MAAF

ASSALAAMU"ALAIKUM
MOHON MAAF, ISI DARI BLOG INI SEBAGIAN SAYA HIDDEN DULU, INSYA ALLAH AKAN SAYA BUKUKAN. MOHON DOANYA.