Saturday, June 19, 2010

Senandung Rindu Santri Krapyak

Krapyak, desa yang terletak di sebelah ring road selatan jogja ini memang menyimpan kenangan yang tak akan mungkin terlupa oleh siapapun yang pernah tinggal disana, begitu pula perasaan yang dialami oleh penulis.

Di desa ini penulis pernah belajar, di sebuah pesantren besar, pesantren yang kemudian dikenal luas dengan nama desa dimana dia terletak, pesantren Krapyak.

Kealiman, kewibawaan dan Kesahajaan para kyai, hal itulah yang akan selalu terukir di setiap ruang dalam otak penulis. Para pengasuh menganggap santri seperti putra-putri mereka sendiri. Begitulah yang penulis rasakan sampai saat ini.

Alhamdulillah, keluarga pengasuh bisa mengenal kami (penulis dan teman-teman santri lainnya) seperti keluarga sendiri. Meski kami tidak lagi berada di krapyak, namun pengasuh masih saja ingat dan keep in touch dengan kami. sampai saat ini. Hal itulah yang menyebabkan penulis meski sudah tidak mengenyam studi lagi di Krapyak, namun bagi penulis jiwa dan hati penulis seakan ingin selalu berada di krapyak. Rasa kangen, rindu selalu ada di pikiran penulis.

Suasana pesantren begitu kental disana. Setiap pagi , sore dan ketika waktu solat sudah mulai masuk, senandung asmaul husna bergema di setiap lorong yang kemudian mampu menerobos melalui ventilasi-ventilasi kamar. Ketika jam 7 tepat, bel berbunyi, santri berlomba membaca asmaul husna, mengawali kegiatan belajar mereka di kelas. Bismiilaahi wa bihi badakna walau ‘abadna ghoirohu lasyaqina ..

Tazwiidul mufrodaat dan muhadatsah di lantai lima sakan, dziba’an, sorogan, kenangan itu masih tersimpan rapi bersama segala bumbu cerita lucu dan harunya. Kebersamaan Ro’an atau jalan kaki menyusuri jalanan demi untuk ziyaroh makan mbah Ali dan Mbah munawir serta keluarga besar krapyak lainnya di Dongkelan , hari jum’at pagi.

Menghitung sendok atau gelas gus kelik, nguras kolam ikan abah Hilmy, nguras kolam ikan Gus Zaky, sorogan Pak Afif, Salim tangan Mbah Zaenal, Mbah Najib, Mbah Warson, Sowan Pak Bik, Pak Jirjis, Bu Lutfiah, Bu nafis, Nasi Mbok Yem… Ya Allah… Panjangkan umur Mereka, berikan lebih banyak kesempatan kami untuk mengulangi dan mengulangi kenangan itu lagi.

Tatapan sangar pak Nuryanto Alwi, bentakan Pak Muhlisin, Rotan Pak Mulyadi, Tamparan bogem pak Azhari, sangat berbuah manis pak…terima kasih.

Lebaran jaga pondok, waktu kelas satu lebaran nggak boleh pulang, pertamannya sedih tapi selanjutnya bahagia karna bisa merasa lebih dekat dengan ndalem.
2003 penulis lulus dan harus meninggalkan krapyak selanjutnya harus pergi ke Mesir. Sedih banget ……

3 tahun di krapyak, merasa belum mendapat setetes ilmu . masih ingin bersama para alim krapyak.
Alkhamdulillah, di Mesir, penulis merasakan kembali suasana Krapyak, ada pak Syaufuddin, mas Atho, mas Arif, Mas Anis, Mbak laila, Mbak eka, Mbak naimah, Pak Thoyyib dll.. krapyak ada dimana-mana

Setelah sekian lama tidak bercengkrama dengan Susana krapyak , penulis sangat bersyukur kemarin bisa mengikuti acara gus kelik di Duren sawit.

Mas Uzi dan dik Uqi, yang dulu sering penulis gendong, kini sudah besar… Obi Putra pak Zaqi sudah besar.. dulu ada Arafat putra bu hindun, tapi kemarin tidak hadir.

Bisa mencium tangan Gus Afif, Gus Zaky, Pak Tarom, gus Kelik, mas Nilzam, Pak Nuryanto Alwi…. Ketemu teman-teman… yang juga bisa membuatku bahagia, bisa ketemu sama Bu Iffah…

Suara hadroh Krapyak membawaku kembali ke 10 tahun yang lalu, sempat terharu…..

......... ditunggu senandung rindu satri krapyak II...

Krapyak…. Oh krapyak…