Monday, September 14, 2009

GADIS BERKALUNG GITAR

Gadis berkalung gitar
Minggu 13/9/09, hari ini aku merasa senang sekali karna aku bisa kembali bersyukur pada-Nya. Sebelumnya aku merasa bahwa akulah mahluk tuhan paling sial di lebaran tahun 2009 ini. Aku terancam tidak bisa merayakan lebaran bersama orang-orang yang aku sayangi. Sarung yang aku beli dan ingin ku hadiahkan untuk bapak, kakak, dan dua sepupuku terancam tak dapat ku berikan. Semua itu karena sampai hari raya h-7 aku belum mendapat tiket pulang.

Sedih, seharian aku tidak bisa menjalankan aktivitas secara baik. Bayangan hanya tertuju pada bagaimana aku bisa pulang dan merayakan hari raya bersama keluarga di rumah. Berbagai agent penjualan tiket sudah aku hubungi, namun hasilnya nihil. Kabar paling baik yang aku dapat dari agent-agent itu adalah; bahwa ada kursi kosong untuk tanggal 19/9 namun Ac biasa. Kujawab saja agent tersebut, terima kasih.

Seorang teman bernama Ahmad Syifa (terimakasih atas tawarannya) menawariku untuk bareng keluarganya yang akan mudik ke bayuwangi pada tanggal 17/9. Ya.. itu adalah alternatif terakhir yang aku punya jika aku ingin lebaran di rumah sampai akhirnya aku dapat angin segar, bahwa Pemda Jateng menyediakan 120 bisa untuk mudik bareng warga jawa tengah. Tiket harus di urus di Kampung Rambutan.

Dari kabar itu aku mulai bisa tersenyum. Akhirnya di hari fitri tahun ini aku bisa bilang.. sarung ini buat bapak, yang ini buat mas, yang ini buat dik fahmi dan dik Riza… saat itu pasti semuanya akan terharu.
……..

Tiket mudik akhirnya ku dapat juga. Kini aku harus pulang ke Depok, dimana aku tinggal sekarang, untuk packing dan berbagi kabar gembira kalau aku sudah pegang tiket.

Dari kampung rambutan ku naik bis no 590 jurusan rambutan – lebak bulus. Panasnya jakarta selatan memang bisa membuat orang ilfil untuk keluar, apalgi bulan puasa. Dalam perjalanan, bis yang aku naiki sempat ngetem di pasar rebo untuk mencari penumpang. Di tengah kami ngetem. Seorang gadis berkalung gitar memasuki bis yang aku tumpangi. Beberapa menit kemudin, setelah mengatur nafas, dan posisinya, gadis itu meminta izin kepada para penumpang untuk menghibur mereka.

Gadis itu mengenakan kaos panjang warna merah, di tutup rompi terusan rok (tidak tahu istilahnya) sekujur badan tertutup. Rambutnya dibiarkan terbuka dengan bando yang mengatur supaya rambutnya kokoh di terpa angin. Sopan, seandainya aku di beri banyak kelebihan harta pasti akan ku rawat anak itu, Pikirku.

Lagu pertama yang dia bawakan aku tidak begitu tahu, namun lagu kedualah yang kemudian semakin membuatku tersentuh. Gadis berkalung gitar itu menyanyikan lagu kebesaran-Mu-nya st-12.

Allahu Akbar Maha Besar
memuja-Mu begitu indah
selalu Kau berikan semua
kebesaran-Mu Tuhan

Tak terasa, akupun tak bisa menahan untuk tidak mengiringi jemarinya yang memetik senar gitar. Tak terasa aku terbawa membawakan lirik yang begitu indah menurutku.
Tiba-tiba dia pun menyudahi konsernya dengan doa semoga para penumpang diberi keselamatan sampai tujuan, dilimpahkan rezkinya dan dimudahkan segala urusannya.
Beberapa orang muali sibuk mempersiapkan berapa uang yang akan mereka berikan kepada gadis berkalung gitar yang mulai mengeluarkan plastik sebagai penadah uang. Sebagian yang alian tetap tenag dan mempersiapkan muka sebagai ekxpresi maaf untuk tidak bisa memberi uang. Bagaimana denganku sendiri, yang duduk di samping jendela ?

Aku sibuk mencari uangku, dimana uangku…. Oh tidak.. aku tidak punya uang yang bisa kuberikan kepada gadis berkalung gitar itu. Aku tidak percaya bahwa ternyata uangku tinggal satu lembar yang tadi sudah kuberikan ke kondektur namun belum di kasih kembaliannya. Kondekturpun lagi sibuk mencari penumpang. Oh..ya Allah, raut muka model apa yang akan ku tampakkan ke gadis itu.

Senyum hambar sebagai rasa bersalah ku lemparkan pada gadis itu.
Akhirnya gadis itu turun dari bis. Masih sempat ku keluarkan kepalaku untuk melihat gadis berkalung gitar tadi. Sekarang pemandangan lain ku lihat, disampingnya berdiri seorang perempuan parlente dengan gaya kantoran yang modis, memegang HP sambil mencari temanna, yang mungkin sudah membuat janji disitu. Dengan sopannya gadis berkalung gitar tadi menepuk tangan wanita kantoran itu sambil berkata “mungkin itu orangnya mbak..”

Wanita yang baru saja kebingungan itu pun akhirnya menemukan temannya. Dengan senyum kaget dan penuh rasa terimaksih wanita itupun pergi.

Pundakku di tepuk oleh kondektur dari belakang. “ Ni bang kembaliannya ”
Sambil ku menghitung uang kembalian ternyata bis yang aku tumpangi mulai tancap gas lagi….

Ya…untuk gadis berkalung gitar, maafkan aku…