Friday, October 12, 2007

Andi Menagis di Perpisahan; Ekspresi Sebuah Persaudaraan

Selasa (9/10) CLT (Cairo local timing) BO keputrian KKS mengadakan acara Pengajian dan buka bersama sekaligus perpisahan salah satu putri Celebes, Andri Satrianingsih. Acara bertempat di Baruga KKS, di kawasan Hay 10, Nasr City. Menurut rencana, Andi akan meninggalkan Cairo besok harinya, Rabu (10/10) dengan penerbangan Qatar Airways.

Acara demi acara selesai. Selepas shalat dan berbuka seorang mahasiswi membuka acara perpisahan Andi. Hadir dalam acara saat itu putrid-putri Celebes, beberapa keluarga penasehat KKS dan rekan-rekan dari Revival el- Mahbub. tidak hadirnya sebagian besar revivalis dikarnakan jadwal acara yang berbenturan. Seperti Malingkai Ilyas, ketua KKS yang sekaligus anggota kehormatan Revival tidak berada ditempat karna menghadiri undangan dari salah satu penasehat KKS.

Setelah acara dimulai, selanjutnya kesan dan pesan dibuka. Ruhyana, wakil dari revivaliyyin, maju menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga untuk Andi ats kiprah yang telah di berikan untuk revival. Selain itu dia mohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi selama empat tahun bersama.

Senada dengan wakil putra, Anita Umar, wakil dari revivaliyyat mengungkapkan banyak kenangan bersama K’Andi (panggilan akrab dikalangan putri) mulai dari Jakarta sampai Cairo. Anita yang merupakan tetangga Andi tak lupa mohon keihlasan atas kebutuhan dapur (garam dll) yang sering dia ambil secara diam-diam. Setelah Anita, wakil dari KKS menyampaikan hal yang serupa.

Tibalah giliran Andi menyampaikan isi hatinya. Dalam kalimatnya Andi mengucapkan terima kasih atas kehadiran teman-teman baik dari revivalis atau KKS. Secara special Andi mengungkapkan rasa bahagisanya bisa mengenal teman-teman Revivalis.

Ditengah-tengah kalimatnya Andi tiba-tiba menunduk dan diam. Beberapa saat kemudain suaranya mulai keluar terbata-bata, dan Andi pun meneteskan air mata. Suasana berubah menjadi mengharukan. Pembawa acara yang duduk di sebelahnya secara spontan lari mengambil tissue dan memberikanya kepada Andi yang sibuk membendung mata.

“sebenarnya tadi nggak mau nagis, tapi nggak tahu keluar sendiri”ungkapnya singkat. “saya tidak merasa akan meninggalkan teman, tapi keluarga” Andi melanjutkan. Acra tangis-menangis berlangsung lumayan lama, hingga mata Siti Nihayatun Najah terlihat memar serah darah (???)

Merasa tak mampu meneruskan kata-katanya, Andi menutup kalimatnya dengan pesan “barang siapa yang mau nganter, besok berangkat dari bawabah dua jam setengah satu, ada mobil insya Allah.”

Selamat Jalan Andi
Pukul 14.00 CLT rombongan Revivalis telah berkumpul semua di Bandara Internasional Cairo baru. Kedatangan mereka memang tidak serentak karna terjebak terlambatnya mobil sewaan, dan terjebak di beberapa jalur macet kawasan Nasr City.
Sebelum check-in revivalis tidak menyiayakan waktu untuk berfoto bersama Andi Satrianingsih. Setengah jam dari opening Andi mulai menyiapkan diri melewati detector. Terasa bagi andi untuk meninggalkan, begitu juga bari rombongan untuk merelakan. Namun sang pemilik waktu telah menentukan.

Satu permaisuri telah pergi
Berbekal ilmu siap mengabdi
Selamat jalan dan sukses selalu, Andi.

Monday, October 08, 2007

Maidat Al-Rahman, akan berlanjut ?

Di Mesir bulan romadhan sangat terasa keberadaannya sebagai bulan penuh barokah. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya muhsinin (dermawan) baik secara persona ataupun lewat lembaga sosial yang berbagi rezeki di bulan ini.

Hal yang sangat jelas dapat dilihat dan dirasakan manfaatnya secara langsung adalah banyaknya didirikan tenda Maidah ar- Rahman. Tenda-tenda ini didirikan untuk memberikan menu buka puasa untuk mereka yang pintu rezekinya belum diperluas atau untuk mereka yang terjebak maghrib di jalan. Kebanyakan tenda-tenda ini berada di pinggir jalan ataupun masjis-masjid. Selain special menyedikan menu berbuka beberapa masjid juga memberikan menu sahur dengan sistem take a way dan registrasi sebelum bulan puasa tiba.

Bulan puasa juga membukakan mata kita untuk mengetahui sisi kebaikan dan kepedulian orang Mesir. Jika dalam hari-hari biasa kita selalu diributkan oleh perangai warga pribumi, nah pada bulan romadhan ini kita akan menerima suapan langsung dari tangan-tangan mulia warga Mesir.

Masyarakat Indonesia di Mesir pun kebanjiran rezeki. Paling tidak dalam kesehariannya mereka dapat jaminan untuk makan. Bahkan banyak dari flat-falt sewaan dikawasan kampong melayu (district 10) yang dapurnya tidak ngebul di sore hari karna mewajibkan para penghuninya untuk memanfaatkan rezeki tahunan ini. Cocok sekali untuk program ekonomisasi anggaran belanja rumah.

Dr. Abdul Kholiq Tsarwat, dosen ilmu sosial Ain el- Syam university mengatakan, semua orang tidak bisa mengingkari kebaikan yang diberkan oleh para muhsinin, baik yang dilakukan secara pribadi ataupun melalui lembaga sosial. Baik dalam bantuan uang ataupun yang lainnya semisal bahan bantuan makanan atau maidah ar-rahman. Namun beliau juga menyayangkan mengapa agenda ini dilakukan hanya pada bulan romadhan saja. Seolah mereka menganggap kaum miskin itu tidak merasakan kelaparan di selain bulan ini.

Dr. Abdul kholiq juga memberikan strategi untuk lembaga sosial agar lebih selektif menyalurkan bantuan. Karna ada beberapa kelompok yang sebenarnya tidak masuk dalam golongan yang berhak menerima bantuan dan tidak pantas disebut sebagai orang yang membutuhkan. Oleh karna itu, hendaknya setiap lembaga sosial melakukan peninjauan terlebih dulu terhadap mereka yang layak dan berhak untuk menerima bantuan ini.

Senada dengan beliau adalah Dr. Abd Daim, Dosen Al- Azhar university cabang Zaqaziq. Beliau setuju dengan agenda lembaga sosial yang membantu banyak otang pada bulan romadhan. Namun beliau menyayangkan mengapa kegiatan mulia ini menyusut seiring dengan berhentinya bulan romadhon.

Oleh karnanya beliau meminta kepada lembaga sosial agar terus membantu kaum mskin ini diluar bulan romadhon.

Menanggapi pernyataan kedua tokoh Mesir tersebut, Mustofa Mahrus, direktur salah satu lembaga sosial menjelaskan, bahwa kebanyak lembaga sosial yang tidak mempunyai donatur resmi. Sedangkan bantuan dari departemen sosial selalu kurang. Hal itulah yang menyebabkan distribusi bantuan pada selain bulan romadhan.

Dengan datangnya moment bulan romadhon ini dia beserta staf lembaga yang dia pimpin gigih mencari sumber-sumber dana. Mereka mengajak kepada para mereka yang diberi kelapangan rezeki untuk membantu sesamanya dan agar memanfaatkan bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya.

Selain itu Mustafa Mahrus juga menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan lembaga sosialnya tidak berhenti dengan berakhirnya romadhan. Hanya saja pada bulan ini agenda lebih ditingkatkan. Tidak sesering bulan-bulan selainya.

Lembaga-lembag sosial memang memiliki peran yang besar untuk menghilangkan kesenjangan antara kaum kaya dan miskin. Dimana tugas mereka adalah mendistribusikan rezeki kaum kaya agar bisa dinikmati oleh yang pintu rezekinya tidak seluas mereka.

Disamping beberapa kebaikan lembaga sosial yang sudah jelas dirasakan. Ternyata ada juga lembaga sosail yang menyimpang dari tujuannya didirikan. Adil kholil, staff salah satu lembaga sosial mengatakan, lembaga sosial tidak semuanya hebat seperti yang dikatakan banyak orang. Beberapa lembaga sosial prakteknya tidak sesuai dengan tujuan pembangunanya. Mereka tidak membantu kaum fakir miskin namun lebih condong ke pembangunan gedung lembaga itu sendiri ataupun pembangunan gedung untuk keperluan resepsi yang manfaatnya tidak bisa dirasakan oleh semua lapisan.

Adil memberikan contoh, suatu ketika di desanya terdapat dua lembaga sosial. Dan didaerah tersebut banyak sekali kaum miskin. Tapi kedua lembaga sosial ini tidak menaruh perhatian terhadap kondisi masyarakat sekitar baik pada bulan romadhan maupun diluar bulan romadhan. Prakteknya hanya terbatas pada pembangunan sarana-sarana umum dengan alasan untuk mempercantik desa. Hal itu kemudian menyebabkan warga marah dan menuntut departement sosial untuk menutup kedua lembaga ini dari pada menyia-nyiakan uang Negara.

Begitulah sekelumit kebaikan orang Mesir memanfaatkan kedatangan bulan romadhan. Meski memang ada beberapa lembaga yang menyimpang, namun sekarang kita sangat merasakan dan dapat melihat langsung kebaikan dari lembag sosial itu. Hal ini tentunya kita harapkan bisa kita temukan di Inonesia. Dan apakah kebaikan para dermawan ini kan kita temukan setelah bulan romadhan seperti dua dosen tersebut. Kita hanya bisa berharap dan berdoa.

Saturday, October 06, 2007

Kado Untuk revivalis

Selasa (25/9) bandara Internasional Cairo baru terlihat dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi Indonesia . karna pada hari itu 13 putra-putri bangsa akan meninggalkan Cairo. Dari rombongan tersebut 7 diantara mereka adalah mahasiswa Revival el-Mahbub. Diantara Revivalis (nama panggilan Revival el-Mahbub) yang pulang hari itu diantaranya, mahasiswi : Rayyan Safrina, Anggraini Ramli, Sri kusumawati, Nurleni Munir. Dan untuk mahasiswa: Hendra hudaya, Dadang Musaddad, dan Dede Sulaiman.

Revival el-mahbub merupakan mahasiswa hasil dari penyeleksian yang dilaksanakan oleh departemen agama pada Mei 2003. kemudian mereka dipertemukan untuk pertama kalinya di Ponpes Al-Mahbubiyah Cilandak, Jakarta selatan.

Nama Revival el-Mahbub sendiri terpilih melalui voting anggota yang kemudian resmi menjadi nama angkatan. Nama ini terdiri dari dua suku kata Revival yang berarti pembaharu. Sedangkan el-mahbub merupakan bentuk maf’ul dari kalimat Arab habba yang berarti dicintai. Dari gabungan dua kalimat ini melahirkan makna filosofi baru yaitu pembaharu yang dicintai dan mampu mencintai. Diharapkan para Revivalis nantinya bisa menjadi pembaharu yang dicintai oleh masyarakat.

Selama tiga bulan Revivalis mengikuti workshop bahasa dan budaya di Ponpes asuhan Dr. Kh. Manarul Hidayat, M. Pd. Mereka tinggal di asrama terhitung dari bulan Juni hingga Agustus.

Suka dan duka datang silih berganti. Riuhnya suasana ibukota menjadi kendala karna belum akrab untuk para peserta workshop yang kebanyakan datang dari daerah. Ditambah banyaknya tugas dan padatnya kegiatan cukup menguras tenaga dan pikiran para peserta.

Ditengah kelelahan mengikuti pelatihan ini terdengarlah kabar bahwa depag hanya akan mengambil 90 peserta yang akan menerima beasiswa langsung dari pemerintah Rep. Arab Mesir. Padahal jumlah peserta saat itu terhitung 95 peserta. Hasil dari kesembilan puluh peserta tersebut akan ditentukan setelah para peserta mengikuti ujian muqobalah di Kedutaan Rep Arab Mesir di Jakarta Tentu saja hal ini menambah beban batin lebih berat lagi.

Yang cukup membuat bingung peserta workshop adalah, setelah dinyatakan lulus seleksi yang diadakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, para calon mahasiswa diminta untuk mengikuiti pelatihan dengan berbagai persyaratan yang harus dilengkapi. Kemudian calon mahasiswa pun bertanya-tanya, bagaimana jika nanti tidak lulus seleksi sedangkan persyaratan semisal passpopr dan lainya sudah lengkap?

Pemberangkatan Revivalis ke Mesir tidaklah lancar. Setelah pembagian sertifikat kelulusan pelatihan (28/8/03) para calon mahasiswa diperkenankan pulang sambil menunggu panggilan pemberangkatan. Sebagian mahaiswa yang jauh memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Masa menunggu yang tadinya menggembirakan pun menjadi membosankan karna kabar pemberangkatan yang datang selalu dicancel.

Akhirnya pada minggu terakhir Desember dua gelombang berangkat ke negri Fir’aun. Jarak antara kedua pemberangkatan ini hanya dengan hitungan sebelah jari. Alhasil dua gelombang awal ini bisa mengikuti ujian term awal Al-Azhar university.

Keraguan dari mahasiswa senior sempat membuat kecut Revivalis. Pada saat keberadaannya yang masih baru di Cairo dan disibukkan oleh berbagai dokumentasi administrasi Revivalis dituntut harus ikut ujian yang sudah ada di pelupuk mata. Namun dengan kegigihan, kepasrahan dan doa akhirnya mata kulaih demi mata kuliah bisa dilewati dengan hasil memuaskan.

Estafet kepemimpinan Revival el-Mambub sempat berganti empat kali. Ketua pertama Syatibi Darwis terpilih dengan suara terbanyak ketika masih di Jakarta menyisihkan rifalnya Mutawali Sya’rowi, Musyaffa’ dan Talqis Nurdianto. Ketua selanjutnya Nurul Hadi. Pemegang tongkat selanjutnya Ulil Absor Abdalla (alm) terpilih saat rihlah di fayyoum. Dan akhir kepemimpinan di pegang Ahmadi yang kemudian didaulat menjadi ketua sepanjang masa.

Pergantian musim-musim Cairo menjadi saksi bagaimana perjalanan Revivalis. Berbagai masalah tentunya pernah melanda sebuah organisasi. Tapi rintangan-rintangan itu bisa dihadapi dengan kekuatan persaudaraan yang ada pada setiap persona.

Dipenghujung tahun pendidikan Revivalis patut berbangga dengan terpilihnya dua anggotanya sebagai lulusan terbaik oleh PPMI Awards. Keduanya adalah Nurleni Munir dan Muh. Zakir.

Empat tahun bersama persaudaran dan rasa saling memiliki masih melekat erat. Terlihat pada tanggal selasa (25/9) para Revivalis memenuhi bandara international Cairo baru. Keberhasilan yang telah dicapai bisa dirasakan pula oleh sebagian yang tertinggal. Begitu pula doa dari para saudara yang sudah pulang selalu kami mohon agar senantiasa tercurah untuk kami yang masih berjuang.

Pepatah Persia mengatakan :
“Gar dar Yamani Cuba Mani Pesyi Mani,
(Meski kau berada di negri yaman tapi selalu memikirkan ku, kau bagai di sisiku)
War pesyi mani cube mani dar Yamani,
(sebaliknya, meski kau di sisiku namun tak pernah memikirkan aku, kau bagai jauh dio negri Yaman)
Man botuchuningnam ai nigori Yamani
(meski kau di negri Yaman, kau selalu ada dalam diriku)
Hud dar ajabam qi man tu am yoki tu mani
(aku terkejut ketika melihat diriku sendiri, ini aku atau kamu)

I LOVE YOU ALL REVIVALIS………….