Sunday, June 25, 2006

Begitu Mereka Mencari Istri.

111111111111111111IMG_0399


Sekarang aku mau bercerita tentang sebagian teman-temanku yang berasal dari Uzbekistan dan Tajikistan. Dari penampilan fisik mereka tidak mempunyai ciri khusus dan justru bermacam-macam. Diantara

mereka ada yang mirip dengan orang Cina (putih, mata agak sipit), Jepang, Turki (hidung bengkok) dan Rusia (kulit merah dll). Perbedaan dengan kita orang indonesia adalah mereka tidak ada yang hitam.

Keaneragaman bentuk dan model fisik mereka disebabkan bahwa dulu mereka adalah satu negara yang mereka menyebutnya sovietiyah (uni soviet mungkin ya.) kemudian Rusia menjajah mereka. Nah pada masa penjajahan rusia para penduduk sering berpindah-pindah mencari selamat, dari mobilisasi penduduk ini kemudian terjadilah pembauran ras.

Setelah penjajahan rusia dirasa melemah kemudian satu persatu daerah memerdekakan diri. Menjadi wilayah-wilayah kecil Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhastan dll tapi bukan Pacitan dan Magetan….. kata Tan sendiri sebenarnya berarti wilayah.

Saya jadi ingat ketika ditanya oleh seorang teman dari Somalia. Kenapa di Indonesia ada Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta? Kemudian aku jawab dengan pertanyaan. "apakah kamu tahu, kenapa ada Tajikistan, Uzbekistan, dan Tan-Tan..yang lain?" dia menjawab, bahwasanya kalimat Tan tersebut berarti wilayah. Kemudian aku bilang sama dia, begitu juga dengan Karta (padahal sebenarnya aku nggak tahu arti karta-karta itu).

Nah, ceritaku tentang bagaimana mereka memilih istri akan aku mulai. Malam itu sekitar pukul 02.00 dini hari waktu kairo, aku ingat malam itu malam senin, karna besok pagi adalah ujian untuk tingkat tiga dan empat. Sedangkan aku sendiri ujian hari selasa, malam senin aku sengaja begadang untuk menghabiskan diktat kuliahku.

Aku duduk sendiri di sebelah kanan serambi masjid, kemudian kulihat dua orang menaruh sandal mereka di kotak sandal, mereka Ali dan Tholib. Ali dia berkebangsaan Tajikistan asli, sedangkan Tholib dia Tajikistan tapi ketrurunan Uzbekistan. Ali mahasiswa tingkat akhir jurusan hadis sedangkan Tholib masih duduk di bangku I'dadyah atau sekolah menengah.

Aku dan Ali hanya saling melambaikan tangan sebagai lambang salam jarak jauh. Sedangkan Tholib menghampiriku karna dia tidak ingin mengganggu Ali yang besok ujian. Aku sendiri sebenarnya sudah ngantuk berat dan ingin tidur. ..tapi bagaimana lagi..Akhirnya kamipun ngobrol sampi subuh meski dengan me-nguap2.

Biasalah tema obrolan cowok-cowok kesepian tidak akan lepas dari yang berbau kaum hawa. Kami pun memulai obrolan dini hari itu. Tholib bilang kalau Ali mungkin setelah ujian mau nikah dan dia janji nanti akan ngundang saya di pesta pernikahannya. Kemudian aku bertatanya.
Aku: "emang ada banyak ya gadis tajikistan di Mesir."
Tholib : "sedikit sih tapi lumayan banyak."
Aku: "kenapa nggak nyari saja di Tajikistan"
Thalib: "karna kami yakin gadis-gadis kami yang di Mesir pasti lebih baik dari pada yang di negara kami."

Ya..kemudian Tholib menjelaskan jika tujuan menikah hanya untuk kesenangan duniawi dan seks semata, itu sangat mudah bagi mereka. Mereka tinggal pergi ke Rusia. Disana gudangnya gadis-gadis cantik (langsung aku teringat dengan oxana fedorova, mantan miss universe 2002). Apalagi jika si gadis tahu kalau kita muslim, pasti mereka akan rela membayar berapapun supaya kita mau sama dia.

Kemudian aku bertanya, apa alasan mereka suka dengan muslim? Tholib menjelaskan, mereka para gadis Rusia sudah rahu bahwa agama islam melarang penganutnya untuk Zina, ini berarti muslim itu setia dan tidak akan selingkuh. Alasan lainnya, muslim dilarang minum minuman keras. Hal ini kemudian membuat orientasi lain. Kata tholib pemuda-pemuda rusia kebanyakan minum arak yang menyebabkan mereka lemes, dan mungkin akan menyentuh pasngannya cuman sekali dalam seminggu. Begitulah pandangan gadis rusia terhadap muslim.

Kemudian kenapa kami lebih menyukai gadis di Mesir karna kami yakin gadis di mesir lebih menjaga kehormatan mereka sebagai wanita. Di Mesir, gadis-gadis Tajiki hampir semuanya memakai cadar. Sebelumnya mereka mungkin hanya bejilbab biasa saja.tapi setelah mereka datang ke mesir meraka akan malu karna teman-teman mereka semua berjilbab.

Ya..aku mengakui rata-rata gadis Tan-Tan dan Rusia mereka bercadar, namun meski mereka bercadar mereka tetap kelihatan cantik. Jika berpapasan kita bisa melihat dari mata mereka yang biru ke hijau-hijauan dan timbulan kain cadar karna hidung mereka yang mancung.

Selain itu, rata-rata gadis Tajiki yang disini mereka punya basic agama yang kuat, mereka hafal qur'an dan menjaga pergaulan. Tidak seperti gadis-gadis di dalam negri.
Jalan sama laki-laki dll. "Wah sama dong dengan Indonesia," kataku.

Kemudian temanku menyayangkan sikap gadis-gadis indonesia di Mesir. Dia sering melihat pasangan indonesia jalan bareng, kencan di jalan-jalan bahkan dia pernah mergoki dua sejoli indonesia lagi ngedate di warnet(…..). Untuk soal ini aku nyerah nggak ada pembelaan deh.

Aku : Terus bagaimana kalian mencari istri kalau kalian tidak saling kenal?
Tholib: diantara kami kan disini sudah ada yang berkeluarga, kemudian kami minta bantuan kepada saudara kami tersebut. Siapa tahu istrinya mempunyai kenalan gadis-gadis yang baik. Setelah itu biasanya kami akan di tunjukkan beberapa photo gadis-gadis, nah jika kita cocok kita bisa nanya lebih lanjut tentang dia misalnya apakah hafal al-qur'an atau bagaimana nasab keluarganya dari keturunan baik-baik atau tidak. Jika kita cocok, gantian kita yang mengirim photo, untuk dimintakan pendapat apakah si gadis juga setuju jika di nikahkan dengan pelamar.

Beitulah cara mereka mencari pasangan hidup, menikah tanpa pacaran. Saya jadi berpikir, menikah tanpa kenal memangnya tidak beresiko terjadinya konflik ketidaksamaan orientasi dll. Tapi kemudian saya ingat beberapa teman mahasiswa di Indonesia di Mesir yang menikah juga tanpa pacaran dulu. Begitu juga salah satu putra kiyai ku. Beliau juga menikah tanpa pacaran dulu.

bagaimana dengan aku nanti….calon pacar pertamaku dah disamber orang, terus calon yang ke dua belum jelas…ah..pusing, sementara yang ketiga…belum lahir…ya Allah sisakan untukku satu dari gadis-gadismu…amin.





Wednesday, June 21, 2006

Pulang Kampung,Tradisi Liburan Mahasiswa Mesir

otakik

seremonial sebelum pulang kampung

Di Indonesia kita mengenal tragisi Pulang kampung. Adat ini kita temui biasanya pada saat hari raya, liburan semester atau kenaikan kelas bagi mahasiswa atau pelajar yang indekos. Begitu juga di Mesir, setelah ujian teman-teman mahasiswa disibukkan oleh persiapan pulang kampung, mungkin lebih baiknya tidak saya gunakan istilah pulang kampung karna sudah bertarap dawly (internasional), pulang negara mungkin cocok meski terdengar kurang enak

Memang, menikmati liburan bersama keluarga, saudara dan orang-orang tercinta akan terasa lain dan lebih berharga. Bercengkrama dengan orang yang sudah lama berpisah bisa merefresh kembali otak yang baru saja melakukan kerja rodi selama dua bulan (yaitu saat ujian.) Terlebih menghirup segarnya hawa pagi Indonesia merupakan hal yang sangat kami rindukan.. Tidak seperti di Mesir, pagi hari kita akan langsung disambut matahari yang lumayan agak menyengat.

Aroma tanah yang tersiram air atau terguyur hujan juga merupakan satu hal yang ngangeni. Di Mesir kita bisa merasakan bau tanah hanya saat perpindahan musim. Ya, di Mesir hujan hanya terjadi pada saat perpindahan musim. Setelah tanah terguyur hujan yang menandai perpindahan musim kita baru bisa menikmati bau debu yang Indonesia banged

Rata-rata teman-teman mahasiswa yang pulang adalah mereka yang duah dua tahun di Mesir. Saat tingkat dua memang waktu yang dirasa tepat untuk pulang negara. Itung-itung untuk me refresh otak supaya tidak bosen menghadapi rutinitas selama kairo. Alasan lainnya, seandainya pulang tingkat tiga mungkin akan lebih kerepotan, karna biasanya menjelang tingkat akhir kita akan lebih tarkiz atau konsentrasi dan mencari tambahan pengetahuan sebagai persiapan jika nanti pulang ke Indonesia. Namun ada juga beberapa mahasiswa yang memang diberi kelimpahan rezeki sehingga bisa mengunjungi keluarga dan orang terkasihnya setiap tahun.

Liburan musim panas tahun ini mungkin kairo akan agak sedikit sepi. Meskipun tidak ada pendataan jumlah mahasiswa yang pulang, namun diyakini setiap tahun jumlah mahasiswa yang berlibur pulang semakin meningkat. Hal ini biasanya menjadi topik obrolan teman-teman yang lebih memilih menikmati liburn musim panas di kairo. Mereka selalu membicarakan kawan-kawan yang akan pulang. Musim panas juga menjadi ladang subur bagi para broker tiket, karena meski harga tiket melambung dan tidak pernah turun namun seperti saya katakan tadi peminat atau mahasiswa yang berlibur juga semakin banyak.Contoh untuk tiket penerbangan sekarang paling murah $ 700, tapi bandara baru internasional kairo semakin sesak oleh pemudik Indonesia.

Kadang kita membayangkan, bagaimana ya.. rasanya pulang negara. Bertemu keluarga, mengunjungi sahabat-sahabat yang sudah lama terpisah atau berjumpa dengan seseorang yang dicinta. Wah indah sekali dunia ini.. Bagaimanapun keadaan Indonesia, tapi dia adalah negara kita, tanah air dan tempat kita mengukir sejarah perjalan kehidupan kita. Sejak lahir kita sudah menghirup udaranya. Telapak kaki kita sudah menginjak buminya. Meskipun kita sudah sampai luar negeri dan mungkin di luar negri keidupan atau kondisinya lebih baik, namun Indonesia tetap yang terbaik. Saya juga pernah membaca sebuah ungkapan yang di katakan oleh seorang tenaga kerja Indonesia di luar negri "hujan batu di negri sendiri lebih baik dibanding hujan uang di negara orang."

Kita mahasisswa yang tidak mungkin merasakan nikmatnya berlibur ke Indonesia mempunyai taktik khusus untuk mengobati kangen terhadap keluarga. Biasanya kita ikut melepas pemudik sampai bandara. Tidaklah heran jika bandara sering penuh dengan wajah-wajah melayu. Mungkin bisa diungkapkan, satu orang yang pulang, yang mengantar satu RT. Selain itu kita bisanya nitip lewat teman yang mudik. Dari Mesir kita nitip surat atau oleh-oleh sekedarnya untuk keluarga, dengan begitu nanti dari Indonesia kita mendapatkan titipan balasan. Hal ini bisalah dihitung sebagai obat kangen dari Indonesia.

romil8

romil dan rustam, dua teman saya dri rusia sesaat sebelum mudik.

Tradisi berlibur juga dilakukan oleh mahasiswa asing lainnya. Kalau penghuni asrama dimana saya tinggal, Rusia menempati angka tertinggi dalam jumlah pemudik. Seperti pada tanggal 18 juni yang lalu, saya melepas dua teman Rusia yang pulang (asal negara bagian Tatarstan dan Degistan). Kebanyakan mereka bilang ingin merasakan musim panas di Rusia karna tidak tahan dengan panasnya kairo. Disamping itu nilai mata uang mereka yang tinggi, jadi biaya tidak begitu menjadi soal. Selamat jalan para pemudik, semoga selamat samapai tujuan dan oleh-olehnya kami tunggu.

Salam untuk keluargaku di bekasi dan di magelang. Miss u soo.