Monday, March 27, 2006

Ku taruhkan Diri Pt. 25 (Derita kantong Kering)


27 march 2006
Ya..uang yang aku punya hanya 75 pister (Pt, mata uang pecahan Mesir, senilai Rp 1000). Tapi hari ini aku harus keluar dari Bu'ust (asrama dimana aku tinggal). Aku memang harus keluar karna aku sudah punya janji. Tujuanku adalah PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo) dan Hay 10 (distric 10 yang berjarak sekitar 20 kilo dari asramaku) tepatnya di sekretariat KSW. Tapi dengan uang yang aku milki sekarang manalah mungkin? Untuk karcis bus saja mungkin hanya bisa untuk satu kali jalan. Pikirku dalam hati.

Akhirnya, dengan modal nekat aku putuskan untuk keluar, sambil berharap nanti bertemu teman dan aku bisa pinjam uang darinya. Setelah sholat Ashar aku keluar. Mungkin memang nasib lagi mujur, aku tak perlu lama menunggu bus. Belum ada sepuluh menit aku berdiri di halte, bus 995 datang.

Yup..s! aku naik bus. Kubayar karcis seharga Pt. 50. dan otomatis uang yang ada di kantongku tinggal Pt. 25 (sedihnya aku..).

***
Setelah sampai markas PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) aku langsung naik ke atas karna PMIK ada di lantai lima gedung yang sekaligus menjadi secretariat PPMI. Kemudian aku isi daftar tamu dan angket yang ada di sebelah meja penitipan barang.

Tujuanku ke PMIK selain berniat meminjam buku, aku mau menyerahkan buku yang dihibahkan oleh bapak-bapak UIN Jogja. Sedangkan tujuanku ke hay 10 karna aku punya janji dengan ketua KSW, Agus Hidayatullah.

Setelah beberapa lama di PMIK, aku berniat langsung ke hay 10. tapi sebelumnya aku harus mencari suntikan dana. Karna nggak mungkin aku hanya bermodal Pt.25. langsung saja aku naik ke kantor terobosan berharap ketemu malingkay ilyas, aku bisa pinjam uang sama dia karna kami satu asrama. Tapi malang, malingkai lagi keluar . langsung aku ke kantor PPMI. Disana ada talqis yang bulan kemarin pernah aku pinjem uang sama dia. Tapi aku lihat dia lagi sibuk dan mau ada acara. Akhirnya aku urungkan niat untuk minjem uang.

aku kemudian ke halte dengan harapan nanti ada bus 939 warna merah, yang ongkosnya Pt.25.

Tapi..lama aku menunggu, bus yang aku nanti tidak juga datang. sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Cepat ku ambil keputusan untuk menunggu bus di perempatan awal hay 7. dengan maksud disana lebih banyak bus yang bisa aku pilih. aku pun kemudian jalan sekitar
2 kilo.

Dalam langkah kakiku menuju awal
hay 7 aku sempat berangan-angan, seandainya ada orang yang memberiku uang 100 Pt saja aku akan sangat bersyukur. Tapi aku sadar..dengan keadaanku seperti sekarang rasanya hal itu sangat tidak mungkin. Aku bukanlah nabi yang hanya dengan angan-angan semuanya akan terkabul menjadi kenyataan.

Sampi
iqomat maghrib aku beluim juga mendapatklan bus. karna sudah qomat aku putuskan untuk solat maghrib dulu.

***

Pt.25.
aku mempunyai dua pilihan, pertama ,jika bus yang dateng pertama adalah 24 C atau 926 atau 80 coret dari arah Hay 10 berarti aku ke buust (berarti aku pulang ke asrama dan membatalkan janji dengan ketua KSW). kedua , jika bus yang datang adalah 939 atau 80 dari arah Darosah berarti aku ke hay 10 (bertemu dengan ketua KSW). dan kalau yang dateng adalah Metro berarti aku ke Hay 8.

di tengah udara musim
dingin Cairo aku sendiri berharap cemas dengan ketidak pastian..orang-orang yang sedari tadi menunggu bis langsung bisa memilih bus dengan semau mereka sesuai dengan ongkos yang ada. Namun aku masih terdiam sambil berandai-andai jika aku mungkin diberi rezeki lebih saat itu, aku tidak perlu kepanasan di awal sabi’ (pintu masuk Hay 7)
Sewaktu lagi nunggu, bus 995 dan 65 lewat. Aku bayangkan seandainya aku punya uang!? Mungkin aku nggak akan kedinginan seperti ini . aku bayangkan seandainya uangku Pt. 50, duh indahnya!

Se
telah lama menunggu akhirnya Metro datang. Ya..! berarti aku ambil pilihan ke tigaku, ke hay 8.

***
Aku turun di halte yang
depan cafe c'est la vie hay 8. aku jadi bingung mau kemana?ada tiga tujuan yang bisa aku tuju. Ke rumah pak bukhori? Ke rumah Musyaffa? Atau ke asrama wami?

Kalau kerumah pak bukhori hanya mau minjem uang aku pikir malu. Kalau nginep? sekarang aku nggak bisa nginep diluar
karna aku punya jadwal Tahfidz intensif sehabis subuh setiap hari di asrama. Kalau kerumah Musyaffa' ,lebih malu lagi karna aku minjem troli belum aku balikin. Wah pusing nih!

Akhirnya alternatif terakhir aku ke asrama wami. Disana paling tidak ada Ayoub dan Farih. Semoga saja mereka ada. Setelah aku masuk wami aku panggil farih, adik kelasku. Alkhamdulillah dia tidak keluar dari asrma hari ini. Ayoub juga, sedang ada di kamar.

Setelah basa-basi sedikit antara aku, farih dan ayoub. Ayoub keluar meninggalkan aku dan farih, rencananya
ayoub mau masak bubur kajang ijo untuk makan malam.
Krna yang ada hanya aku dan farih langsung saja Aku utarakan niat awalku sama farih kalau aku mau minjem uang. Mendengar hal itu Farih histeris. Tak pernah terpikir olehnya punya kakak kelas semiskin ini (mungkin itu yang dia pikirkan). Akhirnya farih langsung merogoh saku. "tapi cuman ini mas..kalau kurang, ada di atas!". kata farih.
"dah cukup, Cuma buat ongkos saja kok" jawabku.
Setelah uang kuterima, aku ngobrol-ngobrol sebentar lalu pamitan.
Akhirnya setelah selesai hajat aku langsung pulang. Ya..uang dari farih cukup lah sampi akhir awal bulan april.

Begini
derita mahasiswa yang tak bisa mengandalkan harta dari orangtua,namun mempunyai tekad untuk bisa membuat bangga orangtuanya. Ya aku, hidupku di mesir hanya mengandalkan beasiswa yang aku dapat setiap awal bulan dan dari kerja bantu-bantu beberapa ayah angkatku di mesir.
Membaca cerita ini membuatku teringat kembali, tentang asrama ku, halte dimana aku biasa menunggu bis, wisma nusantara, Hay 6. Hay 7, Rob’ah Al-adawea, Hay 8, Hay 10. Tempat yang sangat familiar bagiku. Terlebih Hay 8. Disana ada satu keluarga yang sangat membantuku selama aku di cairo. Terima kasih pak, ada Mitos dari orang Mesir “ Barang siapa yang sudah minum air Nil pasti suatu saat akan kembali ke Mesir… semoga.

Friday, March 24, 2006

Panasnya Cairo Siang Ini

masjid al-azhar tampak dari depan

Jam 12.48 waktu cairo, setelah selesai jamaah solat dzuhur di masjid al-azhar aku langsung pulang. Karna hari ini aku Cuma punya dua mata kuliah. Seperti biasanya aku putuskan untuk jalan kaki, selain lebih ekonomis siapa tahu lewat perjalanan pulang aku bisa menangkap banyak pelajaran.

Kalau kurasakan, hari ini sangatlah berat. Panasnya matahari menyengat dan membakar kulit . Bau aspal terbakar juga silaunya matahari membuatku harus mengecilkan mata ketika berjalan.

Perjalanan dari al-azhar ke asramaku memakan waktu sekitar 20 menit. Kalau dimakan hati, jalan selama 20 menit di siang hari yang panas, sendiri wah..nggak bakal sampe. Tapi aku orangnya simple..

Bagiku dua puluh menit tidaklah lama. Karna hal ini sudah menjadi keseharianku. Kendala hari ini Cuma perbedaan cuaca yang sebelumnya musim dingin, jadi waktu jalan tidak terasa panas. Dan juga banyak dari kawan dari berbagai Negara yang juga jalan kaki ke kampus.

Aku juga termasuk pejalan cepat. Terbukti dari beberapa teman yang selalu interupsi ketika aku ajak jalan, kata meraka langkahku seperti langkah maling. Ah ..masa bodoh. Aku jawab, orang yang jalannya cepat mempunyai orientasi kedepan yang lebih tinggi dan lebih menghargai waktu. Lihat saja orang jepang!

Keluar dari pintu samping al-azhar aku berjalan ke arah kanan. Sekitar tiga ratus meter , terdapat rumah sakit husein. Rumah sakit milik Al-azhar. Aku menyeberang , Ku ambil satu-satunya lorong yang ada disitu. Karna aku pikir lewat jalan dalam tidak terlalu panas. Sinar matahari tertutup bangunan-bangunan tinggi yang menjadi pemukiman penduduk.

Tapi, untuk itu aku harus membayar lebih. Kawasan sekitar al-azhar adalah kawasan kumuh, bau sampah dan pesing semakin menyengat oleh panasnya matahari musim yang sudah masuk ke musim panas. Kontan aku harus menutup hidung sebagai bayaranku.

Ternyata baju koko lengan pendekku tidak mebuatku nyaman. Atau mungkin karna bahan dasarnya tisu yang semakin panas jika terkena matahri? Disepanjang perjalanan aku sering ngedumel. aku lihat bus-bus travel membawa para touris lalu lalang seperti Overland travels, egypt flowers, cleopatra dan king tout, beberapa nama bus yang sempat aku rekam Uh...enak sekalii pikirku..duduk di bus AC panas-panas begini.

Tapi kadang aku merasa bersyukur sekali jika kubandingkan dengan pengemis yang ada di sepanjang jalan, seperti Pria kaki buntung, seorang kakek yang duduk lunglai, seorang wanita dengan anaknya yang selalu meminta kepada setiap mahasiwa asing yang sedang menunggu bis di mahattoh. Paling tidak, menurutku aku lebih beruntung dari mereka. Alkhamdulillah ya..allah. meski aku juga nggak punya uang, meski setiap kuliah jalan kaki, tapi aku masih tenaga, kesehatan yang memungkinkan untuk teus berjuang di negri fir'aun ini.

Aku juga berpapasan dengan anak-anak petani yang membawa hasil pertanian mereka seperti wortel, bawang yang diangkut dua keledai kurus. Satu hal yang aku benci dari mereka dan semua anak-anak kecil mesir, mereka selalu iseng menyapa hai...orang korea... jam berapa..atau what's your name? Memang, orang mesir kadang memanggil orang asia bermata sipit sebagai orang korea. Hal ini akibat dari diputarnya dua film seri korea pada tahn 2004 yaitu autum in my heart dan winter sonata. Dua film ini memang terhitung berhasil diputar di mesir.

Hal lain yang aku lihat aku berpapasan dengan gadis-gadis mesir. Karna saat-saat seperti sekarang ini adalah jam keluar sekolah. Diantra mereka sangat beragam dalam berdandan. Tapi mayoritas karna ini musim panas, kebanyakan dari gadis-gadis mesir lebih suka memakai pakaian ketat.

Setelah kira-kira satu kilo aku berjalan. Aku sampi di pertigaan. Dua jalan semuanya bisa sampai ke asrama, terus atau belok ke kanan. Tapi aku lebih suka memilih belok ke kanan. Alasannya sama. ya..lebih sejuk.

Jalan yang kuambil adalah kawasan kepolisian. Bangunan pertama di seberang jalan atau sebelah kiri, terdapat bangunan tertulis Riasah qitho' al-amn al-markazy kalau dalam terjemahanku aku artikan sektor utama keamanan pusat. Gedung berwarna oranye keputih-putihan itu memiliki 3 pintu gerbang, tapi cuman satu pintu yag dijaga ketat. Namun disetiap pintu memilki menara kecil yang dijaga oleh seorang tentara di atasnya.

Kira-kira 200 meter dari pertigaan aku sampai di persimpangan jalan lagi. Diujung jalan sebelum persmpangan ada masjid berbenruk telur. Mesjid ini juga milik kepolisian. Dari persimpangan kemudian aku belok kiri. Dari awal ketika aku belok, tugu bunderan asramaku sudah kelihatan, kira-kira 200 meter-an.

Bangunan yang ada di jalan ini. Sebelah kiri adalah nadi (club olahraga) yang dimilki oleh kepolisian juga. Sedangakan di sebelah kanan adalah tempat latihan para calon polisi. Diwaktu pagi kita bisa mendengar mereka baris-berbaris, ataupun aba-aba terikan seperti merka latihan ketangkasan.

Siang hari, suara tembakan selalu menemani setiap langkahku di siang hari. Tak berapa lama aku sudahh bisa membaca tulisan Al-Azhar Al-Syarif Madinat Al-Bu'ust Al-Islmamiyah / islamic mission city, asrama putra yang dimiliki al-azhar. Kami biasanya menyebunya Bu'ust.

Ya...Cairo siang ini panas sekali. Bukan hanya panas dari sengatan matahari.namun udara juga terasa panas memanggang kulit. Tapi Al-khamdulillah, akhirnya aku sampai juga di Asrama. Aku akan ambil makan siangku kemudian akan ku cobba memejamkan mata, biar bisa menyambut malam dengan fresh. Cairo akan terlihat Indah di malam hari sat musim panas.
Salam hangat dari Cairo
-najib-