Saturday, February 04, 2006

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Masisir



A. Sekelumit Dunia Masisir

Mengamati bagaimana siklus pendidikan mahasisiwa Indonesia di Mesir (masisir) sangatlah rumit. Karena layaknya hidup, kita tidak bisa mengkalkulasikan secara matematis. Disana terdapat hal-hal yang tidak terduga.

Untuk tahun ajaran 2004-2005, indek prestasi belajar masisir menjadi sorotan. Pada tahun tersebut kuota mahasiswa baru (maba) mencapai angka seribu lebih. Namun, melonjaknya jumlah mahasiswa tidak lah menjadi kabar gembira, karena prosentase rasib (kegagalan) juga meningkat, mencapai angka 56 %.

Fenomena kegagalan yang menjadi sorotan tahun 2003 tersebut, lebih banyak kepada mahasiswa baru. Ini bisa disimpulkan telah terjadinya shock culture yang dialami oleh mahasiswa baru. Hal ini lumrah, dan pasti dialami oleh setiap pelajar yang hendak meneruskan belajar ke luar negri.

Shock culture ini disebabkan oleh sindrom karena perbedaan budaya akibat perpindahan dari satu tempat (negara) ke negara lain. Disini, gaya hidup mulai dari hal kecil sampai besar hampir terdapat perbedaan. Yang sangat terasa oleh mahasiswa dalam dunia kampus adalah, tradisi absensi dan bahasa.

Memang tidak salah menjadikan Mesir menjadi labuhan untuk mencari ilmu. Jauh-jauh ke luar negri, memang negri yang terkenal dengan negrinya para nabi ini pantas untuk dijadikan pilihan utama. Terlebih mereka yang dari awalnya berniat mempelajari ilmu-ilmu agama.

Al-azhar, dimana hampir seluruh mahasiswa Indonesia belajar disana, memang tidak meragukan, dilihat dari kebesaran namanya. Namun jika hanya mengekor pada kebesaran sebuah nama, hanya gelar Lc saja yang akan di dapat. karena apalah arti lulusan luar negri, jika mutunya tidak lebih dari jebolan negri sendiri, atau malah lebih rendah dari produk dalam negri?

Alasan lain yang tepat memilih Mesir sebagai naungan meneruskan jenjang studi (islam) adalah, karena perkembangan pengetahun islam di Mesir mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan negara-negara arab lainnya. Berbagai penerbit dan bermacam buku mudah didapat di Mesir. Bahkan negri yang disebut dengan ummu al-hadhoroh (sumber peradaban) ini terkenal sebagai pusat dari khazanah keilmuan islam. Dikarenakan mudahnya mendapatkan dan menemukan berbagai literatur disini.


B. Kairo Membuat Terlena

Teringat pada pepatah arab lama, "kairo, jika kau tidak mampu menguasainya, maka ia yang akan menguasaimu." Dalam tulisan ini penulis mencoba menganalisa beberapa faktor yang menjadi peyebab kegagalan dan keberasilan mahasiswa.

Faktor-faktor yang menjadi alasan mengapa mahasiswa gagal diantaranya:
1. Organisasi

Menyelami dunia masisir secara lebih mendalam penulis bisa menyimpulkan ketrampilan menejemen diri dan waktu serta mempunyai study skill (kecapakapan belajar) adalah hal yang paling penting. Karena dunia yang bersentuhan setelah tiba di Mesir sangatlah beragam. Bukan hanya dunia kampus (yang justru cederung jarang tersentuh), namun juga terdapat berbagai organisasi yang akan mereka temui dalam keseharian mereka.

Diantara berbagai organisasi tersebut semisal PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), sebgai induk dari seluruh organisasi yang ada, juga organisasi kekeluargaan (kedaerahan), organisasi almamater dan afiliatif. Paling tidak setiap mahasiswa menjadi anggota dari empat organisasi tersebut, yang mengagendakan berbagai kegiatan.

Dengan banyaknya organisasi tersebut mahasiswa mungkin akan kebingungan membagi waktu dan mengatur diri. Yang selanjutnya aka terjadi ketidakseimbangan waktu yang dialokasikan untuk studi ataupun di organisasi.

Tidak jarang, acara ataupun agenda organiasi bersamaan dengan waktu perkuliahan. Ataupun, karena terlalu padatnya kegiatan oraganisasi kadang mahasiswa terlena di dalamnya, dan tidak sempat untuk mengikuti kuliah dosen. Waktu yang ada hanya habis untuk melaksanakan kegiatan tanpa memperdulikan kuliahnya.

Namun, organisasi tidak bisa secara mutlak menjadi kambing hitam untuk kegagalan. Bagaimanapun juga, setiap mahasiwa akan menjadi bagian dari organisasi, baik secara lambat ataupun cepat. Karena dunia mahasiwa itu dinamis, dan organisasi adalah bagian dari dinamika mahasiwa. Selain itu, Tidak sedikit pula mahasiswa yang aktif di organisasi namun prestasi belajarnya Lancar. Bahkan nilai yang di peroleh dari hasil ujain pun membanggakan.

Meski sering terdengar kalimat: "dia gagal tahun ini karena sibuk di organisasi." Pernyataan seperti itu bisa jadi benar. Namun, melihat kenyataan, tidak semua orang yang berorganisasi kemudian gagal, hal itu bisa dibantah. Kesemuanya tergantung bagaimana pribadi Mahasiswa menyikapi organisasi tersebut. Apakah akan terlena dengan kesibukan? Atau berusaha menemukan jalan studi dan organisasi.

2. Mudahnya Sarana Hiburan

Menjamur dan murahnya layanan dunia maya (internet) bisa dijadikan faktor sukses dan gagalnya mahasiswa. Dunia cyber mempunyai manfaat dan memberikan berbagai kemudahan untuk mahasiswa. Bahkan zaman sekarang, orang yang gagap internet bisa di bilang ketinggalan zaman. Dengan layanan internet setiap orang bisa mengetahui berbagai peristiwa dan kejadian di seluruh penjuru dunia.

Dengan layanan ini pula setiap orang bisa mencarai berbagai referensi dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Jika hasil dari kecanggihan teknologi ini dugunakan seperti hal tersebut di atas, hal ini sangat mendukung untuk keberhasilan mahasiwa. Dan servis online ini pun bisa dijadikan sarana refreshing.

Namun, jika kemudahan dan murahnya internet ini hanya untuk chatting yang berlebihan, downloading yang kemudian membuat terlena untuk hanya nonton film, penulis yakin, tidak seorangpun berani menjamin, keberhasilan akan tercapai.

3. Keburukan Sistem

Selain itu, sistem yang dipakai al-azhar tidak bisa diketahui. penulis berani mengatakan bahwa sistem di al-azhar sangatlah tidak mendukung untuk keberhasilan. Semisal, turunnya muqoror (diktat kuliah) tidak jarang terlambat, juga kondisi perkuliahan di kampus yang sangat tidak mendukung. Dengan keadaan ruang kuliah empat meter persegi, fasilitas seperti bangku dan meja yang mudah untuk dibongkar pasang sangatlah tidak mendukung, situasi yang sangat tidak kondusif dan gaya penyampaian yang tidak representatif.

Telah kita ketahui, prosentase kehadiran muhadhoroh (hadir dalam ruang kuliah) tidak menjadi hitungan, artinya al-azhar tidak mempermasalahkan, apakah mahasiswanya datang ataupun tidak. Akan tetapi, bagi masyarakat Indonesia hal ini aneh dan langka. Ketika masih di Indonesia, hadir di tengah kuliah mendengarkan penjelasan dosen merupakan kewajiban. Secara tidak langsung, dengan menghadiri muhadhoroh setiap mahasiswa akan mendapatkan "blue print" (penjelasan langsung) yang dikeluarkan oleh dosen.

Dengan seringnya menghadiri kuliah, mahasiswa akan mengetahui secara detail karakter setiap dosen pengajar. hal ini sangat efektive, dari pada membaca dan mengikuti bimbingan-bimbingan dan mencari tahdid ketika menjelang ujian, meski hal tersebut juga sangat banyak membantu. Nah, "blue prin"t ini mahal harganya, karena dari situ mahasiswa sudah bisa menerka tentang kisi-kisi pertanyaan yang akan di ujikan nantinya.



4. Kendala Memahami Bahasa

Sindrom lain yang diakibatkan oleh shock culture adalah kendala bahasa. Selama di Indonesia, bahasa, kebanyakan dipelajari secara teoritis, kecuali beberapa pondok pesantren modern yang sudah menggunakan sitem particum language untuk komunikasi sehari-hari. Namun itu belum juga banyak membantu. Karena bahasa arab yang dikenal selama di Indonesia akan terdengar dan dirasa lain ketika kita sudah sampai di negara arab langsung.

Walaupun bisa dibilang, selama di Indonesia kita menguasai kaidah-kaidah bahasa arab (nahwu dan shorof) dan komunikasi bahasa arab adalah praktek sehari-hari, itu belum menjamin. Terutama bagi mereka yang tidak terbiasa membaca literatur-literatur arab. Karena sistematika dan perkembangan bahasa, mahasiswa jarang yang bisa langsung memahami muqoror. Dibandingkan bahasa yang biasa digunakan di Indonesia, semisal bahasa klasik (bahasa kitab kuning).

Bahasa juga menjadi sangat penting karena semua referensi yang dipakai menggunakan literatur arab. Bayangkan jika kita tidak bisa menguasai bahasa arab, yang menjadi bahasa pengantar dan komunikasi sehari-hari. Bermula dari kebingungan dalam menangkap penjelasan dosen, bisa jadi timbul keengganan mahasiswa untuk datang ke kampus. Mereka lebih cenderung membaca sendiri ataupun belajar kelompok. Padahal dari sini kadang terjadi suatu persimpangan antara pemahaman dosen dan pemahaman yang dihasilkan oleh mahasiswa itu sendiri.

Selain kecakapan dalam menangkap dan memahami bahasa pengantar. Mahasiswa juga dituntut untuk trampil dalam menghafal dan ta'bir (pengungkapan / menyusun kalimat dengan bahasa arab). Karena sistem yang menjadi senjata pamungkas dalam ujian, ada diantara dua hal itu, sistem hafalan ataupun pemahaman. Dua hal tersebut harus dikuasai oleh setiap mahasiswa. Karna karakter yang dimiliki oleh setiap dosen berbeda-beda. Ada yang memakai sistem pemahaman dan juga hafalan. Dan juga ada mata kuliah yang memang harus dihafal, seperti materi al-qur'an.

Materi hafalan al-qur'an, biasanya juga menjadi momok tersendiri bagi setiap mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir. Delapan juz awal al-qur'an harus dihafalkan di luar kepala. Banyak dari mahasiswa berani berspekulasi tentang ayat-ayat yang akan keluar dalam ujian, namun yang namanya spekulasi hanyalah rabaan atau perkiraan. Beruntung jika soal yang di perkirakan keluar, jika tidak?

5. Kondisi Lingkungan

Faktor lain, keselektifan dalam memilih teman bergaul dan tempat tinggal. Secara tidak langsung, faktor lingkungan akan memberikan corak dan warna terhadap sikap dan pribadi kita. Seseorang yang hidup bersama sekelompok mahasiswa yang rajin kuliah, pasti akan terbawa ikut rajin kuliah, begitu juga sebaliknya.

Seorang mahasiswa mungkin bisa mempertahankan idealisme atau prinsipnya. Semisal, bahwa sebagian besar waktunya setiap hari harus lebih banyak digunakan untuk membaca, ataupun segala sesuatu yang bisa menambah pengetahuan dan Intelektualitasnya. Tentunya idealisme tersebut akan terwujud jika situasi dan kondisinya mendukung. Namun bagaimana jika keseharianya dari lingkunganya hanya joking, shopping, cahtting, watching dan traveling. Nah, meski bertahan, mungkin bisa dihitung dalam hitungan hari. Karena jika situasi seperti itu, kebanyakan kita sulit untuk mengatakan, tidak (menolak)!

Penulis tidak mencela hal tersebut diatas (traveling, shopping, chatting, watching), karena hal tersebut juga diperlukan untuk mereda suhu otak. Tapi yang penulis maksudkan di sini adalah, terlalu banyaknya waktu yang terbuang untuk refreshing. Tidak jarang kita mendengar "mengapa belajar terus, manusia perlu resfreshing?"

Ya, jika tenaga mekanik saja membutuhkan pendingin, apalagi otak manusia? Membutuhkan waktu untuk hiburan atau refreshing adalah hal yang pasti. Tapi orang lain tidak bisa menilai kadar kesuntukan atau hal dimana seseorang membutuhkan hiburan. Setiap pribadi lebih tahu, berapa porsi kejenuhan dan seberapa porsi pas untuk me-refresh otaknya. Masing-masing individu juga lebih bisa menilai seberapa porsi yang telah dihabiskan di depan monitor, atau porsi yang telah dihabiskan bergelut dengan buku. Apakah porsinya di attabah, mall lebih banyak atau lebih sedikit dibanding waktunya duduk dibangku kuliah. Setiap pribadi mempunyai ukuran dan standar yang berbeda.


3. Sibuk Mencari Penghasilan

Hal lain yang dapat mempengaruhi prestasi masisir adalah, kerja. isu hangat tahun 2003 adalah penipuan yang dilakukan oleh para broker di Indonesia. Demi untuk mendapatkan untung, para broker memberi impian indah para calon korban. Iming-iming segala kemudahan dan fasilitas yang akan di terima setelah tiba di Mesir. Kemudahan yang dijanjikan adalah semisal beasiswa ataupun asrama.
Ketika sesampai di Mesir, mereka mengalami semacam disorientasi. Kenyataan yang mereka terima sangat berlawanan. Beasiswa susah, karena dengan banyaknya jumlah pendaftar maka persaingan akan semakin ketat. Sedang asrama yang dijanjikan, hanya dalam angan.

Calon mahasiswa dengan bayangan segala janji yang menggiurkan, dengan modal tekat dan nekat, memutuskan untuk belajar di Mesir. Ternyata, kemudahan-kemudahan hanyalag janji-janji broker. Akhirnya, karena kesulitan finansial yang dirasakan, demi untuk menyambung hidup di negri fir'aun ini mereka bekerja.

Namun, kitapun tidak bisa menyalahkan seratus persen, bahwa, bekerja adalah berlatar belakang dari tipuan broker. Mayoritas mahasiswa yang bekerja adalah desakan dari masalah finansial. Diantara mereka memang menantang untuk bekerja, dengan prinsip ingin mandiri. Walaupun sebenarnya bisa mendapatkan kiriman dari orang tua. Faktor bekerja ini lama-kelamaan bisa berpengaruh dan mengubah study oriented mahasiswa. Teringat dari angel yang pernah diangkat suatu buletin kairo, "belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar?’

Bekerja sambil belajar. Jelas, bahwa belajar adalah prioritas utama. Bekerja dijadikan fasilitas untuk menghasilklan sesuatu yang bisa dijadikan sarana yang mendukung keberhasilan studi. Dan dalam memilih pekerjaan pun akan lebih selektif. Dalam mengatur waktu juga diusahakan bagaimana seproporsional mungkin.

Namun, jika motto diatas diubah, bekerja sambil belajar. Maka orientasi dan sikap akan berubah. Yang mendapat perhatian lebih adalah bekerja, sedangkan belajar lebih menjadi menu tambahan. Tidak penting apakah waktunya bekerja lebih banyak. Sepulang dari kerja langsung istirahat. Kesehariannya dirumah hanya untuk istirahat, setelah itu harus kembali bekerja. Jika kesehariannya seperti itu, maka tidak ada waktu untuk mengikuti kuliah,


C. Beberapa Pendukung

Selain beberapa penyebab yang dianggap sebagai pemicu turunya indeks prestasi masisir, penulis mencoba menganalisa faktor-faktor keberhasilan yang telah diraih oleh masisir. Memang tgidak salah menjadikan Mesir menjadi labuhan untuk mencari ilmu. Jauh-jauh ke luar negri, memang negri yang terkenal dengan negrinya para nabi ini memang pantas untuk dijadikan pilihan utama. Terlebih mereka yang dari awalnya berniat mempelajari ilmu-ilmu agama.

Banyak hal yang mendukung keberhasilan mahasiswa di negri piramid ini. Setiap ulama ataupun intelek bisa dengan mudah ditemui, bahkan bersedia diundang untuk datang pada seminar yang diadakan oleh mahasiswa. Dengan mudah, mahasiswa pun bisa secara langsung bertanya dan berdiskusi. Hal seperti ini jarang bisa ditemui di Indonesia.

Beberapa faktor yang bisa menjadi faktor keberhasilan mahasiswa adalah
1. Banyaknya lembaga bimbingan.

Lembaga bimbingan ini biasanya diadakan satu atau dua bulan menjelang ujian pertengahan atau akhir tahun. Hampir setiap organisasi mengadakan bimbingan belajar ini, baik dari senat, organisasi kedaerahan (kekeluargaan), afiliatif ataupun almamater.

Kegiatan ini lebih diprioritasakan untuk mahasiswa baru. Karena bantuan dari bimbingan ini akan sangat terasa. Mahasiswa baru yang memiliki kendala menangkap bahasa pengantar mendapatkan kendala serius. Terlebih muqoror (diktat kuliah) yang sulit didapat, ataupun keterlambatan turunnya muqoror. Mereka akan terbantu dengan penjelasan yang diberikan oleh tutor yang biasanya dipilihkan dari senior-senior yang membidangi materi mata kulaih tersebut.

2. banyaknya perpustakaan dan toko buku.

Hal ini secara tdaka langsung menjadi faktor penentu keberhasilan seorang mahasiswa. Dengan adanya perpustakaan dan toko buku mahasiswa akan banyak mendapatkan banyak referensi untuk pengetahuan mereka. Karena ilmu itu bukanlah pendapat yang satu, tapi dari berbagai pendapat. Jika hanya mengandalkan muqoror, maka hanya sedikit pengetahuan yang didapat dan hanya satu pola pikir yang diperoleh, tidak mengetahui bahwa ada pendapat yang lebih rasioanalis, yang bisa jadi pendapat baru ini mengcounter pendapat yang ada di dalam muqoror.

Tercatat di Mesir ada lima perpusatakaan besar dan berjuta toko kitab (buku) yang tersebar dan mudah ditemui. mahasiswa Indonesia pun mempunyai perpustakaan yang menyediakan layanan peminjaman terhadap anggotanya, PMIK (perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo). Selain perpustakaan dan toko buku, wujud dari perhatian pemerintah terhadap minat baca, satu kali dalam setahun diadakan cairo international book fair (CIBF) yaitu pameran buku internasional yang diikuti oleh berbagai penerbit seluruh negara arab. Untuk tahun 2006 ini sudah menjadi pameran yang ke-38.

3. lembaga kajian dan seminar
Kegiatan dari mahasiswa kairo juga banyak yang mendukung, artinya beraroma intelektual dan ilmiah. Seperti lembaga lembaga kajian dan seminar yang diadakan oleh berbagai organisasi yang ada di Kairo.

D. Merujuk pada tujuan utama

Setelah membaca uraian diatas, secara garis bear bisa penulis simpulkan, kegagalan dan kesuksesan studi setiap individu dari masisir, adaah bagaimana kecakapan personal dalam memproporsionalkan waktu dan kebiasaan keseharian mereka. Kesuksesan juga tergantung pada target dan prinsip. Akan tetapi sebagaimana diketahui, layaknya hak, prinsip tidak bisa dipraktekkan secara mutlak. Karena akan berbenturan dengan prinsip yang dimiliki oleh orang lain.

Sebagai trik hendaknya setiap mahasiswa tahu celah-celah, dimana dibutuhkan ketegasan dalam memegang prinsip dan disaat kita dituntut untuk lebih toleran. Pandai-pandai memilih dan menempatkan hal. Prinsip dalam hemat penulis, bahwa pada dasarnya mutlak dan kaku, namun dalam pelaksanaanya fleksibel (lentur).

Bisa dimulai dengan membuat sebuah time organizer untuk kegiatan diri sendiri. Memang metode semacam ini terkesan klasik, namun dari time organizer tersebut kita bisa belajar tentang menejemen diri, mengenai kiat menemukan target harian atau mingguan. Dengan menejemen seperti ini kita akan lebih fokus terhadap garis mendatar atau jalan terbaik untuk mencapai hal-hal yang kita targetkan.

Memperbaiki kebiasaan kita, temukan prinsip "anda adalah adalah apa yang anda lakukan". Atau dalam suatu kata yang lain dikatakan, kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang, karena itu keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan. Sean covey menulis dalam buku the seven habits of higly efective people:

"taburlah suatu paradigma maka kau akan menuai perbuatan
Taburlarlah suatu perbuatan, maka kau akan menuai kebiasaan
Taburlah suatu kebiasaan, maka kau akan menuai nasib."

Sebenarnya banyak dari kita yang menyadari dan telah menemukan naskah dari hidup kita yang tidak efektif. Namun terasa berat untuk merubahnya.
Seperti terlalu banyaknya waktu senggang. Dan juga terlalu banyaknya "liburan" yang berlangsung dalam waktu lama. Terlalu banyak nge-game, terlalu banyak film, terlalu banyak waktu yang kita jalani tanpa disiplin. Terkadang kita tidak menyadari, bahwa seseorang yang mengambil jalan tanpa tantangan maka akan semakin memboroskan hidupnya.

Penulis yakin setiap kita yang datang ke Mesir, mempunyai suatu impian. Meskipun akhirnya impian tersebut berubah ataupun hilang karena beberapa faktor. Mencoba menemukan kembali impian, Mengingat misi pribadi dan menjadikannya sebagai target akan menambah spirit dan motivasi gairah belajar.

Memilih suasana yang mendukung kesuksesan studi. Berusaha untuk membedakan hal-hal yang penting ataupun tidak. Dan gantungkanlah diri pada prinsip. Gunakan waktu dengan mengisi kegiatan yang efektif, yaitu, suatu kegiatan jika anda mengerjakannya secara teratur akan membawa perbedaan positif yang luar biasa. Ingatlah! efektifitas kita merupakan kesempatan perbaikan kedepan jika kita telah melewatinya.

Tingkatkan kemampuan study skill yang meliputi penguasaan mendengar, merangkum dan mengungkapkan. Bersikap mandiri. Meskipun tidak terpaut presentase kehadiran, akan lebih baik jika kita mengikuti kuliah dosen, demi untuk mendapatkan "cetak biru dosen".

Selain itu, setiap organisasi yang ada di Kairo selayaknya menciptakan iklim yang bisa memberikan kontribusi untuk kesuksesan mahasiswa. Setelah usaha-usaha lahiriah, tentunya kita yakin, bahwa tuhan lah penentu semuanya. Wa Allah a'lam