Saturday, December 03, 2005

Tidak Ada Perbedaan Antara Sunni dan Syiah

Di tengah kunjungan perdana mentri Iraq Ibrahim Ja'fari, kembali grand syeikh al-azhar menegaskan tidak ada perbedaan antara syiah dan sunni. Kesemuanya mengusung jargon tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad sebagai utusan Allah. Hal ini menurut syeikh thantowi harus dimengerti oleh semua warga Iraq untuk melerai berbagai konflik yang sempat terjadi antara kaum syiah dan sunni.

Selain itu syeikh pengganti syeikh Gad Al-haq Ali Gad Al-haq ini menguatkan, bahwa dalam sistem pedidikan mazhab-mazhab di al-azhar tidak diajarkan tentang perbedaan. Islam membenci fanatisme buta dan tindakan rasialis yang dikatakan oleh beliau sebagai tindakan orang-orang bodoh. "Dan tidak dianggap sebagai seorang muslim jika mati dalam keadaan ta'asub. Perbedaan pendapat yang ada tidak berarti harus menuai konflik". Tegas beliau.

Untuk menengahi konflik yang sering terjadi diberbagai penjuru dunia antara berbagai sekte agama, syeikh thantowi menawarkan sebuah solusi. Mencoba melihat secara Flashback terhadap misi para utusan atau nabi-nabi yang datang tidak atas nama suatu golongan tertentu. Kedatangan para utusan tersebut membawa satu ajaran yaitu ajaran islam. Agama yang mempunyai ajaran universal. Yang terpenting sekarang bagi setiap muslim adalah bagaimana menjadi muslim yang sejati, menjadi pribadi yang dihiasi ahlak yang mulia dan ikhlas karna Allah sebagaimana para utusan dahulu. Selain itu sebagai manusia yang berakal mengedepankan jalan diplomasi ataupun dialog merupakan suatu keputusan bijak dari pada memilih jalur konfrontasi dalam menangani suatu konflik.

Tidak salah syeikh thantowi mengambil sample misr. Negri yang terkenal dengan rasa toleransi religinya yang tinggi. Kehidupan antara muslim dan nasrani mesir dislimuti dengan cinta, meskipun kehidupan mereka diliputin perbedaan aqidah. Kehidupan antara nasrani dan muslim mesir ini berlangsung dari beberapa abad hingga sekarang.

Kembali syeikh thantowi menegaskan perlunya menjalin hubungan yang baik antara sesama termasuk nasrani selama mereka tidak berbuat aniaya. Secara logika, terhadap orang berlainan aqidah saja kita di perintah menjalin hubungan yang baik, bagaimana dengan suadra seiman sendiri?

Menyinggung tentang peledakan bom bunuh diri di berbagai tempat-tempat umum dan pipa minyak di iraq. Syoeikh thantowi mengecam tindakan seperti itu karna beliau menilai, banyak dari saudara mereka yang tak berdosa yang menjadi korban. Tindakan kotor seperti itu sudah keluar dari ajaran islam.
Sedangkan perdana mentri Iraq Ibrahim ja'far kemudian menguatkan apa yang dikatakan syeikh tahntowi sekaligus memberikan statemen khusus kepada al-azhar. "Al-azhar akan menjadi sumber sinar islam yang jauh dari sifat ta'asub" tegas beliau.

Ibrahim ja'far juga menegaskan tentang kesan yang terde3ngar dari islam. Islam adalah nagera damai, penuh cinta. Islam adalah agama yang mempunyai dasar perlindungan terhadap jiwa, harta, agama, pendidikan dan keturunan. Agama yang memberi kedamain terhadap orang lain dan tidak memaksanya.

Sedanngkan untuk kejadian-kejadian yang merugikan masyarakat awam beliau mengomentari, bahwa hal itu merupakan kesalahan budaya dendam tanpa pertimbangan. Islam sebagai agama dalam mengatur kehidupan bermasyarakat tetap mengedepankan nilai humanisme (kemanusiaan). Itulah landasan pokok untuk membentuk masyarakat humanis dan islamis. (sawt al-azhar)

^_^ mas naguib gitu loh...:))