Friday, November 11, 2005

Silaturahmi KH. Atabik Ali (pengasuh Pon Pes Krapyak Yogyakarta)

Malam tanggal satu syawal 1426 H, KH Atabik Ali (pengasuh pon pes krapyak yayasan Ali Maksum Yogyakarta) beserta bapak Agus Maftuh (dosen syariah UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta) mendarat di Cairo International Airport. Landing pesawat pukul 21.20 WK, delayed sepuluh menit dari timing schedule.

Rombongan disambut oleh bapak Muzammil Basyuni beserta Ibu Diana Muzammil, Bapak Bukhori sail At-tahiry, bapak Fadholan Musyaffa dan perwakilan dari santri krapyak Zainun Najib. Setelah itu beliau beserta rombongan meninjau tempat yang akan di jadikan tempat solat ied bagi masyarakat Indonesia. Gus Bik (panggilan akrab beliau) selanjutnya bermalam di wisma Ma’adi, kediaman bapak Muzammil.

Pagi harinya, beliau sholat Ied bersama dengan masyarakat Indonesia Cairo di masjid Al-salaam 1st gate, 10th distric, Nasr City, wilayah yang banyak dihuni oleh mahasiswa Indonesia. Sekaligus temu kangen dengan beberapa santri beliau yang belajar di Mesir. Belum selesai melepas rindu dengan putra-putra krapyak, beliau harus kembali ke Ma’adi untuk beristirahat setelah menjalani beberapa kegiatan yang melelahkan.

Di hari kedua syawal, beliau melanjutkan temu kangen dengan putra-putra krapyak di Ma’adi, bertepatan dengan open house yang digelar oleh keluarga bapak Muzammil. Di sela-sela temu kangen ini beliau menjelaskan alasan utama mampir ke Mesir.

“meski sudah tua, tapi saya bela-belain mencari-cari buku untuk sebuah ilmu” tegas beliau. Beliau juga menegaskan bahwa umat islam memang harus bangkit, dan harus berani melihat dunia. Menyinggung dengan wacana islam modern Sohibu kamus kontemporer (Al-‘Asry) ini menghimbau, supaya jangan takut menghadapi reaksi yang akan timbul. Demi untuk sebuah pembaharuan dibutuhkan sebuah keberanian.

Beliau juga memberi support kepada beberapa alumni yasalmayo (Yayasan Ali Maksum Yogyakarta) untuk lebih giat belajar. Mengingat bermacam tantangan yang harus dihadapi dan problematika wacana agama dengan nuansa ke-indonesiaan yang memerlukan solusi kongkrit.

Dikesempatan ini juga, beliau menyarankan selagi masih di Mesir untuk memperbanyak membaca. Membaca berbagai buku dengan berbagai “warna”, supaya diketahui dari sudut pandang mana orang berbicara. Dari situ kita bisa melihat, berbagai pandangan yang dihasilakn dari kaca mata yang berbeda. Jika ditemukan ketidak cocokan kita bisa mengcounter pendapat dengan argumen yang bijak.

Ditanya tentang pembajakan kamus yang telah beliau susun, dengan nada yang santai beliau menceritakan. Suatu hari ada tamu yang mengaku dari mahasiswa Cairo meminta izin untuk membeli hak cipta Kamus Al-‘asry. Namun beliau menolak karna jerih payah beliau dalam menyusun kamus itu dilakukan selama sebelas tahun. Sebagai solusi pihak krapyak akan melakukan distribusi kamus ke Mesir.

Selain berbelanja kitab-kitab, Kegiatan gus Bik dan Pak Agus (panggilan pengarang buku Negara Tuhan ini) mengujungi berbagai tujuan wisata di Mesir. Sinai menjadi tujuan utama karna beliau ingin napak tilas kisah perjuangan nabi Musa As. Alexandria, dikota ini rombongan menziarahi makan syeikh abu Abbas al-mursyi dan imam al-busyiri sohibu qosidah burdah. Selain itu jugs rombongan mengunjung babliotica dan menikmati sunset di pesisir pantai kawasan benteng qitbay.

Hari selanjutnya, rombongan mengelilingi obyek wisata dan makam para Auliya yang ada di Cairo. Meski kunjugan kali ini adalah kunjungan ke tiga bagi Gus Bik dan ke dua bagi pak Agus. Namun bagi beliau, kunjungan kali ini adalah kunjungan yang paling berkesan karna langsung dilayani oelh anak-anak sendiri, tidak seperti kunjungan sebelumnya, karna mengingat komunitas santri krapyak saat itu masih bisa dihitung dengan sebelah jari.

Malam harinya bapak KH Atabik Ali harus pulang, karna sudah ada janji dengan seseorang di Singapura. Sedangkan pak Agus sendiri masih tinggal di mesir. Beliau juga mempunyai janji untuk bertemu dengan salah seorang relasi di Cairo.

Putra pertama dari KH. Ali Maksum ini sudah satu bulan meninggalkan Indonesia. Beliau beserta bapak Agus Maftuh bertolak dari cengkareng mulai awal Romadhon. Tujuan dari rombongan ini adalah mencari bahan-bahan untuk dijadikan referensi penulisan buku yang rencananya akan ditulis oleh Gus Bik sendiri.

Sebelum singgah di Mesir beliau sempat mencari referensi dan manuskrip-manuskrip di jordan, syiria, saudi arabia dan beberapa negara lain. Mesir adalah negara ke enam yang disinggahi rombongan beliau. (^_^ mas naguib)