Friday, October 14, 2005

Gerilya di Bulan Romadhon (sekilas potret masisir)

Romadhon karim, bulan penuh berkah dan ampunan. Bulan dimana amal dari setiap pahala manusia akan dilipatgandakan. Bulan diturunkannya al-qur'an. Berbagai kegiatan ibadah pun menjamur, dari yang wajib sampai yang sunah. Bulan yang disana terdapat malam terbaik dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qodar.

Awal bulan romadhon 1426 Hijriah ini jatuh di penghujung musim panas. Dan langsung disambut winter cairo. Oleh karna itu, puasa tidaklah begitu terasa berat, mengingat waktu siang Cairo lebih pendek di musim dingin. Didukung hawa yang tidak mudah membuat capek.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan mahasiswa indonesia di Cairo begitu beragam. Agenda pasti bagi mahasiswa biasanya buka puasa bersama. Untuk merekatkan hubungan emosional biasanya agenda ini dilaksanakan perkekeluargaan, afiliatif, al-mamater dan organisasi-organisasi lain. Agenda lain seperti sholat tarawih, peringatan nuzul Al-qur'an tidak lepas dari kegiatan masyarakat indonesia cairo.

Kedatangan bulan penuh rahmat ini selalu dinantikan oleh setiap muslim. Untuk menambah investasi amal kebaikan mereka. Semua muslim di dunia memanfaatkan kedatangan bulan ini dengan baik. Begitu juga di mesir, baik warga asing ataupun penduduk pribumi tidak akan melewatkan bulan ini berlalu tanpa mengisi ruang kosong hati mereka.

Di bulan puasa ini kebaikan dermawan-dermawan mesir akan terlihat nyata di depan mata. Uluran tangan mereka akan langsung kita rasakan. Seperti contoh yang bisa dirasakan sehari-hari, tenda-tenda yang menyediakan ma'idat al-rahman (sajian buka puasa) akan berdiri di setiap masjid. Selain di masjid, ma'idat al-rahman hampir bisa dijumpai di setiap mahattoh (pemberhentian bis yang ada di setiap distric). Paling tidak, bagi masyarakat yang suka melakukan perjalanan tidak perlu khawatir untuk mendapatkan hidangan buka puasa.

Hal lain yang menunjukkan kepedulian sosial masyarakat mesir, pada akhir romadhon akan ada pembagian zakat atau infaq diberbagai tempat. Para warga rela antri untuk menunggu menerima zakat tersebut, pun juga mahasiswa asing baik yang berasal dari Indonesia, thailand, cyrzikystan, mongol atau mahasiswa dari negara-negara afrika. Tak jarang lautan manusiapun terjadi untuk mendapatkan minimal tambahan Le. 20 yang tentunya bagi kita nominal tersebut sangatlah besar.

Untuk masalah zakat atau infaq ini menjadi hal yang sangat menarik. Zakat/infaq ini dikeluarkan biasanya di sepuluh hari terakhir bulan romadhon. Namun menurut penulis, gerilya zakat ini akan memakan efektifitas waktu dan ritual-ritual lazimnya bulan suci. Karena di sepuluh hari terakhir itu kegiatan ritual keagamaan kita bisa berkurang dan mungkin akan hilang.

Memang, hasil yang didapat dari gerilya romadhon sangatlah menggiurkan. Jika dibandingkan dengan ukuran beasiswa bulanan mahasiswa tidak lah sebanding. Nominal Le. 20 adalah nilai paling sedikit yang diterima untuk satu tempat. Bayangkan kalau satu hari mendapat empat tempat. Tidak jarang juga tempat yang memberi junaih (pound) dengan angka depan diatas lima bahkan ada yang mencapai seratus pound.

Mahasiswa yang cepat dan tanggap akan informasi akan mendapatkan lebih banyak "barokah romadhon" ini jika mau cekatan. Seratus lima puluh dolar akan terkumpul dalam sepuluh hari terakhir bulan romadhon. Satu hari bisa tiga tempat atau lebih yang mengeluarkan zakat yang tersebar di ma'adi, roxy, ramses, tahrer, dan distric-distric di kawasan Nasr city. Tidaklah munafik, Sebagai mahasiswa dengan kantong tipis, penulis memang merasakan "berkah sepuluh hari terakhir" ini.

Memang, siapa yang menolak, hanya dalam sepuluh hari "gerilya" bisa mendapatkan pesangon lebaran seukur beasiswa enam bulan mahasiswa. Namun, hasil menggiurkan itu penulis rasakan mengorbankan sisi lain dari kekhidmatan dalam mengisi bulan romadhon sendiri.

Sepuluh hari terakhir, waktu dimana orang lebih giat dalam ritual keagamaanya. Di hari-hari itulah malam lailatul qodar biasanya turun. Disaat orang lain sibuk menanti malam lailatul qodarnya dengan berbagai ritual ibadah, "gerilyawan" sibuk memenyusuri jalanan cairo.

Pagi menjelang siang biasanya rombongan sudah berangkat. Menjelang dhuhur rombongan pulang kemudian istirahat. Menjelang sore, dirasa matahari tidak lagi menyengat, rombongan kembali beraksi. Atau ada yang berburu setelah maghrib sampai tengah malam baru pulang. Pikiran yang muncul selanjutnya pun, kemana besok kita akan pergi?

Gegap-gempita idul fitri di cairo memang tidak seperti di indonesia yang dituntut oleh berbagai keperluan lebaran. Tapi kebutuhan tidaklah pernah berhenti dan memandang sasaran. baik pria ataupun wanita, tua ataupun muda. Terlebih, Kita sebagai mahasiswa asing juga merasakan akan kebutuhan yang sangat. Selain untuk keperluan sehari-hari juga untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan, wajar dan sangat manusiawi seandainya mahasiswa ikut antre.

Selain kegiatan diatas, masih ada juga mahasiswa yang mempergiat amal ibadah mereka di hari-hari terakhir romadhon. Mereka berbondong mendatangi tempat yang diyakini memilki keutamaan. Baik keutamaan itu dipandang dari segi historial atau yang lain. Masjid Amru bin ash dan masjid Al-Salaam nasr city tampak semakin manjadi favorite mahasiswa menjelang akhir romadhon.

Memang, hakikat mengisi bulan romadhon memang bukanlah sekedar puasa menahan lapar dan dahaga semata dan ibadah-ibadah kasat mata saja (tarawih, tadarus). Yang lebih penting adalah mengaplikasikan nilai inti dari puasa itu sendiri. Kesabaran, dan pengorbanan menahan diri dari segala nafsu. Ikut merasakan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam hikmah puasa. Juga bagaimanakah peningkatan kita setelah romadhon nantinya.

Maka, dianjurkan untuk pandai-pandai mengatur waktu agar bulan penuh ampunan ini tidak meninggalkan penyesalan. Akankah bulan yang dinanti ini akan berlalu tanpa mengisi satu ruang kosong dihati?

Penulis tidaklah bermaksud sok idealis. Penulis hanya menggambarkan sebagian potret sosial mahasiswa cairo dalam menyikapi bulan suci. Dalam mengisi bulan suci ini kita kembalikan kepada setiap pribadi. Namun tetap dengan sedikit harapan, jangan sampai bulan yang di mulyakan dalam keyakinan agama kita ini, berlalu tanpa meninggalkan kesan pada batin kita.

Pada akhirnya hanya harapan dan doa yang bisa kita panjatkan. Semoga puasa dan amal ibadah kita diterima disisinya. Dan ruh romadhon akan tetap hadir walau telah berlalu, karna hakikat dari romadhon itu akan tetap ada, setiap saat.
Wa Allahu a'lam
Delete It Cancel

No comments: