Sunday, October 23, 2005

Bongkar Pasang cadar; Bagaimana kita menyikapinya?

Bongkar Pasang cadar;
Bagaimana kita menyikapinya?

Akhir-akhir ini Cairo kembali diguncang pembicaraan tentang cadar. kalau sebelumnya dihebohkan oleh beberapa mahasiswi yang rame-rame memakai cadar, kini beralih beberapa mahasiswi yang mulai buka cadar. Sampai-sampai beberapa buletin cairo mengangkat tema ini dalam setiap penerbitannya.

Buletin informatika edisi 98/1 Agustus 2005 dalam rubrik sastranya memuat cerpen dengan judul "sebuah keputusan" karya Heni Kulsum. Secara special tulisan ini dia (penulis cerpen) dedikasikan untuk Revivaliyat (mahasiswi depag angkatan 2003) dengan catatan akhir "jangan takut untuk mengambil suatu keputusan", dalam cerpen itu di kisahkan seorang gadis bernama Yuni yang divonis mempunyai penyaklit migrain dan alergi debu yang akhir-nya Yuni memutuskan untuk memasang tutup muka di wajahnya.

Penulis menangkap isi dari cerpen tersebut, Heni Kulsum ingin menyampaikan salah satu dari beberapa motivasi seorang gadis memakai cadar, dalam tokoh yuni dia menggunakan kesehatan sebagai faktor mengapa kemudian dia memilih untuk memakai cadar, dengan alasan Yuni tidak tahan terhadap bau debu terbakar dan parfum murahan yang dikonsumsi oleh sebagian besar mahasiswi di kampusnya.

Buletin informatika selanjutnya, edisi 99/16 agustus 2005, rubrik sastra memuat cerpen dengan judul "cadar basah" karya dari M. Hidayatulloh. Dalam karyanya pengarang cerpen mengisahkan penyesalan seorang gadis yang membuka cadarnya gara-gara meragukan keseriusan seorang ustadz yang dia cintai.

Akhirnya penyesalan terjadi pada diri si gadis karena harus kehilangan cintanya. Ternyata sang ustadz lebih simpatik terhadapnya ketika masih memakai cadar. Si gadis hanya bisa bersedih, menangis dan membasahi cadar dengan air mata penyesalanya.

Penulis membaca, pengarang cerpen dalam cerita itu berusaha untuk mengatakan bahwa wanita yang membuka cadar adalah untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Membuka tutup muka untuk mendapatkan sebuah cinta. Sebuah kritik dan komentar yang lumayan menggigit.

Buletin lain yang juga pernah mengangangkat tema cadar adalah Terobosan edisi 278/11 september 2005, sebuah cerpen yang ditulis oleh abu gharib. berkisah tentang gadis bernama rita yang memutuskan untuk menggunakan tutup di wajahnya dengan alasan menjaga diri supaya terhindar dari fitnah dan lebih bisa menjaga tingkah lakunya sehari-hari, karna dia merasa pergaulannya terlalu berani sebagai mahasiswi Al-azhar.

Ketiga cerpenis di atas hendak menyampaikan pendapat meraka tentang fenomena buka tutup cadar mahasiswi Cairo. Mereka mengangkat tema tersebut sebagai reaksi sosial dari dinamika mahasiswi Cairo tentang buka-pasang cadar.

Selain dalam bentuk sastra (dalam buletin Terobosan dan Informatika), fenomena cadar buka cadar sempat menjadi angel dari sebuah buletin fatayat yang diterbitkan oleh fatayat PCI-NU mesir edisi VI/28 Agustus 2005. ada dua rubrik yang membahas tentang isu hangat cairo tersebut, rubrik analisa (fenomena cadar masisir ditulis oleh khairun niswatin. Lc), juga kolom (Fenomena Buka Cadar; Antara Dualisme Idealis ditulis oleh Ai’ Sulastri)

Fenomena pasang dan bongkar cadar.
Fenomena tutup dan buka cadar bagi kalangan mahasiswi Cairo bukanlah hal baru ataupun aneh. Kita bisa menemukan mahasiswi yang kita kenali sedang memakai cadar, dalam beberapa bulan atau musim depan bisa saja melepas atau membukanya. Dari yang bercadar hanya karna mengikuti trend (maaf) sampai yang tadinya sangat getol sebagai pahlawan bercadar.

Hijab (cadar), terlepas dari penafsiran dan perdebatan hukum pemakaiannya dalam fikih, bagi penulis merupakan pilihan dan hak privacy bagi seorang wanita muslimah. Apakah dia akan memakai atau menutup mukanya.

Idelanya seorang wanita haruslah mengkaji dan tentunya sudah berpikir matang sebelum memutuskan untuk memakai niqob. Begitu juga mereka (wanita bercadar yang kemudian melepasnya) haruslah mempunyai argumen kuat, mengapa harus membuka kain yang menutupi sebagian ataupun seluruh mukanya itu.

Penulis sendiri menyimpulkan tentang beberapa hal yang menjadi alasan mendasar yang mendorong wanita memakai cadar. Pertama: seorang wanita memakai cadar karna menurut keyakinannya hal itu merupakan suatu kewajiban (alasan syar'i) lebih dari sekedar afdholiyah (keutamaan), kedua: alasan kesehatan (alergi debu dan bau-bauan, dll), ketiga: keamanan dan kenyamanan. Wanita akan lebih merasa nyaman dan aman dari gangguan mata-mata yang biasa memandang dengan sejuta makna. Keempat: ikut trend mode.

Ketika memakai niqob kemudian berniat melepasnya, tentunya wanita juga memiliki tekanan psikologis. Bagaimana menghadapi komentar-komentar yang akan timbul dan tak jarang menyudutkan mereka. Berbagai reaksi pasti timbul baik itu reaksi positif ataupun negatif.

Penulis berpendapat, bahwa bongkar pasang cadar ini tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk menjustifikasi kepribadian seorang wanita. Apalagi mengatakan plin-plan. Hal ini juga tidak bisa dijadikan perangkat untuk meragukan konsistensi seorang wanita. Hanya karna membuka kain yang telah menutupi sebagian besar wajahnya seorang wanita diklaim tidak istiqomah, mempermainkan hukum dll.

Memang, idealnya bagi seorang wanita harus memilki dasar dan komitmen yang kuat sebelum memutuskan untuk berniqob. Jangan sampai sekedar ikut-ikutan arus dan taklid buta. Jika seperti itu, maka hal ini tidak akan bertahan lama karna tidak berasal dari kesadaran sendiri.

Namun bukan berarti wanita yang bercaadar kemudian melepasnya adalah wanita yang hanya mengikuti trend saja. Tidak jarang wanita yang tadinya berpendirian kuat untuk bercadar akhirnya melepas juga. Ya..si wanita tentunya lebih tahu dari setiap kebijakan yang diambilnya. Karna wanita lah yang lebih memahami akan dirinya.

Begitulah fenomena bongkar pasang cadar. Adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Tidak perlu kita mengkritik ataupun mengeluarkan komentar yang berdasar hanya pada praduga. Seorang wanita mempunyai hak untuk mengambil keputusan tentang cadar, dan sebaiknya kita juga lebih arif dalam memandang hal-hal seperti di atas. Tuhan juga tahu setiap apa yang terbersit di hati setiap hambanya.

Janganlah berpandangan wanita bercadar itu lebih benar dan lebih baik, ataupun sebaliknya. Terlebih tentang hukum membukanya, karna masalah pemakaiannya pun juga masih menjadi hal yang mukhtalaf fih (debatable/masih menjadi perdebatan).

Wa Allahu A’lam


* Warga Islamic Mission City, Abbasea, Cairo.

1 comment:

sandhi said...

Ternyata Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan bahwa cadar itu wajib. Fatwa ini membuktikan bahwa cadar telah dikenal di kalangan kaum muslimin Indonesia. Jadi cadar bukanlah barang baru, asing, atau radikal dan bukan pula identitas khusus kelompok tertentu, ajaran teroris apalagi dikatakan sebagai bukan ajaran Islam atau aliran sesat.
Sebaliknya, cadar adalah ajaran Islam, ajaran Rasulullah , ajaran para sahabatnya dan ajaran para ulama ahlussunnah wal jama’ah ; maka dari itu tidak boleh dan tidak patut seorang muslim mengolok-oloknya, menghinanya atau melecehkannya.

MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

Jawaban :
Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi - penj ).
Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

LIHAT REFERENSI :
Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.