Sunday, December 11, 2011

Catatan Santri 15 ; Dulu, U 18 dilarang ke Masjid


Saya (Paling Kanan), bersama generasi muda Muslim.







Saya mempunyai teman, Dia bernama Marat Gizzatullin (32), dosen salah satu Institut technologi yang terdapat di Yekaterinburg.­ Kami berkenalan di masjid Nur, Oktyabirski, tempat dimana kami setiap hari minggu pagi berkumpul untuk mengadakan majlis pengajian.

Bisa dikatakan, Marat termasuk generasi muda muslim yang ada di Yekaterinburg. Selain muda dia juga seorang intelek, hal itu terbukti dari profesinya sebagai seorang Dosen dan kandidat Doktor komunikasi di institute tempat dia mengajar sekarag.

Alhamdulillah, semakin banyak generasi muda yang ingin memperdalam Islam. Berawal dari Marat, kemudian datanglah Denis Valiyev (35), Dosen IT di institut yang sama dengan Marot. Posisi mereka sebagai Dosen sangat mendorong perkembangan dakwah yang mereka lakukan.



Dari dua dosen muda tersebut akhirnya datang jamaah lain, seperti Rinat Yarmiev (24), Aidar (25) dan Vadim (20), ketiganya adalah mahasiswa-mahasiswa mereka.

Di hari-hari kerja, Marot beserta Denis menjalankan aktifitas seperti biasa, mengajar di salah institut telekomunikasi yang ada di jalan Repina, Yekaterinburg. Dan untuk akhir pekan, minggu, mereka "mengaji" di desa Oktyabirski.

Keinginan mereka untuk mempelajari agama terlihat sangat besar. Itu semua terlihat dari kegigihan mereka mempelajari agama dari nol. Mereka belajar membaca alqur'an dimulai dari huruf hijaiyah. Meskipun sudah berumur kepala tiga, namun mereka tetap saja semangat.

Terkadang mereka sangat merasa kesusahan. Hal itu sangatlah dimaklumi mengingat selain sibuk, pengajian yang ada di Russia, rata-rata diselenggarakan secara mingguan. Hampir tidak ada waktu untuk mengulang.

Mengapa baru sekarang belajar mengaji ?

Generasi Muda Muslim di acara tahun baru Islam.
Russia bukan lah Indonesia. Di Indonesia, sangatmudah menemukan sarana untuk belajar baca tulis al-qur’an, baik yangcetak ataupun audio visual. Metode yang ada pun selalu berkembang. Taman pendidikan Al-quran (TPA) setiap sore diadakan, bahkan instansi pendidikan berbumbu agama pun tersebar dari tingkat penitipipan anak sampai universitas.Tidak seperti di Russia, bahkan di Tatarstan pun, negara federasi yang termasyhur sebagai kota muslim, islamski sadik (Taman Kanak-kanak Islami) sampai sekarang belum ada , dan sekarang sedang dalam proses perizinan.

Peraturan zaman komunis, anak - anak dibawah umur 18 tahun tidak diizinkan mengunjungi masjid, dengan alasan takut terjadi pendoktrinan untuk menentang penguasa (pemberontakan). Peraturan seperti ini masih berlangsung di negara - negara pecahan Uni Soviet, seperti Uzbekistan, Kirgizistan, Tajikistan, Kazakhstan dll.

Sampai saat ini, penutupan masjdi dan masdrasah masih terus terjadi. Bahkan masjid dimana Nabiulloh Saidov menghafal Al-quran pun ditutup dengan alasan klasik tersebut. Seperti yang publik tahu, Nabiulloh Saidov (10) adalah tokoh film dokumenter Kuran By Heart karya Greg Barker yang sangat mempesona.

Satu contoh sederhana, saya pernah menanyakan kepada salah satu jamaah masjid, yang saya tahu bahwa dia mempunyai anak umur 11 tahun.

"Usman tidak diajak ?" Tanya saya.
"Dia kan masih kecil," jawabnya singkat.

Warisan peraturan ini (anak dibawah umur 18 tahun dilarang mengunjungi masjid) tentu saja sangat merugikan agama karena sangat susah sekali bagi anak di usia remaja mau belajar agama. Jika seseorang mendapatkan "hidayah" setelah delapan belas tahun kemudian mulai pergi ke masjid dan belajar agama, tentunya akan sangat banyak kendala, dari pergaulan, kesibukan, pikiran dll. Mungkin ini jawaban, mengapa selama ini yang hadir di majelis pengajian adalah simbah-simbah.

Simbah-simbah yang menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita saya sebelumnya adalah mereka yang pernah hidup pada masa soviet. Mereka mendapat pengetahuan islam dari predidushi (para pendahulu). itupun hanya sebatas pengetahuan bahwa islam adalah agama yang menyembah satu tuhan, dilarang makan babi, dan minum alkohol, sedangkan untuk pengetahuan yang lain tidak.

Muslim disini menyadari akan keterbatasan fasilitas dan metode yang ada untuk bisa belajar agama secara lebih. Saya hanya bisa membesarkan hati, bahwa Alhamdulillah kita masih menjadi muslim, dan Alhamdulillah kita ada. Kita akan terus belajar tentunya dan hanya Allah yang bisa membantu mereka, (mzn).

Kisah simbah - simbah bisa dibaca disini



0 komentar: