Wednesday, July 13, 2011

Catatan Santri 7 ; KASIH IBU (kangen mode on)

Stasiun Kazan, Pukul 12.00 waktu kazan, saya melihat bis nomer 574 sudah mulai berangkat perlahan. Saya lari dan langsung naik, ternyata bisnya ngetem dulu.

Setengah jam kemudian bis mulai berangkat. Saya sms ibu yang di Indo dan yang ada di Bua (daerah dimana ibu baru saya tinggal), dengan kalimat berbeda namun satu makna “mak, saya sudah naik bis,2 jam setengah lagi sampai, doakan semoga selamat.”

2 jam setengah perjalanan dari Kazan ke kota ke Bua. Setelah sampai rumah saya pencet bel pintu. Bapak lah yang membukakan pintu.



Saya langsung menuju dapur, disana ibu sedang mencuci piring. Setelah salaman, ibu langsung bilang “ mau makan atau mandi dulu ?”

Kata – kata itu membuat dada saya nyesek, kata – kata itu mirip kata – kata ibu saya di Indonesia, jika saya pulang kampung.

Saya jawab “ mau mandi dulu saja soalnya di luar panas “

“ya sudah mandi dulu, nanti saya siapkan handuk dan celana dalamnya “ - beliau menimpali kata-kata saya.

Diperlakukan seperti ini perasaan saya antara bahagia dan tidak enak. Bahagia karena saya merasa bertemu ibu saya sendiri dan antara tidak enak karena memang secara darah kami tidak ada hubungan sama sekali.

Ibu saya di Indonesia juga seperti itu, sering memperlakukan saya seolah – olah saya masih kecil. Saya memahaminya karena memang sejak umur saya 12 tahun saya sudah tidak satu rumah dengan orang tua. Maderasah, Pesantren, melalang buana dll.

Begitu juga dengan Ibu baru saya (ibu teman saya), teman saya sejak Tsanawiyah (SMP) sudah masuk pesantren, mungkin sebagai seorang ibu merasakan masa kehilangan menemani anak – anak mereka.

Selesai mandi, saya langsung duduk di meja makan. Disana sudah ada nasi yang dimasak sepesial untuk saya. Saya bisa bilang seperti itu karena dikeluarga itu tidak ada yang makan nasi. Saya yang menghabiskan dari awal sampai akhir.

Persis ibu saya di Indonesia, jika saya mudik, ibu selalu menyiapkan lalapan daun singkong, sambel terong, sambel Lombok merah mentah, ikan lele atau semur entok. Kadang menanyakan, mau dimasakin apa, dll ?

Kadang kecintaan ibu merepotkan, namun sebagai anak kita harus memahaminya
Pada awalnya saya bilang sama ibu yang di Indonesia, bahwa saya akan bermalam satu malam. Namun ibu melarang. Ibu bilang jangan satu hari, seorang ibu jika hanya melihat anaknya satu hari merasa seperti mimpi. Ibu menyuruh minimal dua hari. Akhirnya aku putuskan dua hari menginap.

Saya bilang ke Ibu teman saya, bahwa saya akan menginap dua hari Sampai akhirnya saya menerima sms dari teman, bahwa dia tidak bisa berlama – lama di Kazan. Artinya, sore harus pulang ke ekaterinburg. Saya harus pulang juga, karena saya sampai kazan nebeng teman, jadi harus manut.

Tidak sampai hati untuk mengatakan bahwa siang ini saya harus pulang. Tapi semakin ditunda semakin tidak bagus juga. Akhirnya aku katakana juga.

“oniem (ibu), saya hari ini pulang. “

Beliau kaget karena sebelumnya saya bilang bahwa akan menginap dua hari. Saya menjelaskan bahwa saya ke Tatarstan nunut teman dan dia harus pulang. Jadi saya harus pulang hari itu juga.

Beliau langsung sibuk, buka kulkas, laci mencari sesuatu yang bisa saya bawa. Beliau terlihat kaget dan gugup. Saya menjadi kasihan melihatnya. ternyata perkataan ibu Indonesia saya benar, jika hanya melihat sehari perasaan seperti ngimpi. Beliau sibuk sekali, mungkin bermaksud agar saya bisa nyangking sesuatu ke ekaterinburg.

“oniem, saya tidak mau bawa apa – apa, repot di jalan,” kata saya.

Namun beliau tetap memasukan coklat, selai, daging, roti. Beliau bilang untuk bekal di jalan saja. Semakin saya menolak, semakin sibuk beliau menanyakan, mau bawa ini…itu…apa tidak ? akhirnya saya diam saja.

Persis seperti emak saya di Indonesia. Jika saya mau balik ke Jakarta beliau selalu nyangoni sabun mandi, rinso, odol, makanan – makanan kecil dan oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta. Terkadang oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta satu kardus dan untuk saya sendiri satu kardus. Repot sekali. Namun begitulah kasih sayang seorang ibu dan keluarga.

Tidak bisa menolak, akhirnya saya nenteng barang juga pulang ke Ekaterinburg.

Setelah sampai Kazan, beliau menelpon, tapi saya tidak mendengarnya karena HP dalam keadaan silent. Akhirnya saya sms, bahwa saya sudah sampai kazan, dan sedang menunggu teman di masjid Sulthon.

Beliau menjawab “ya sudah, hati – hati tadi lupa tidak sempat memberi uang karena gugup”

Membaca balasannya saya merasa terharu. Saya menjawab, terimakasih telah menerima saya seperti keluarga sendiri, saya bahagia jika di rumah (rumah beliau) seakan tidak mau pulang ke Ekaterinburg. Uang bukan tujuan utama saya, bisa merasakan berkumpul bersama keluarga meskipun hanya satu malam merupakan kebahagiaan. Saya hanya butuh doa dari ibu, supaya semuanya lancar dan saya datang lagi nanti puasa atau lebaran.

Membaca smsnya, mengingatkan saya pada ibu Indonesia saya di terminal Magelang, saat lebaran tahun 2009. Saat arus balik, tiket ke Jakarta H+4 Rp 350.000, saya kehabisan uang di dompet. Sisa 50.000 ribu, ibu sempat melihat hanya tersisa satu lembar saja. Kemudian ibu memaksa saya untuk menerima uang 100 ribu dari beliau untuk makan di jalan.

Saya tolak langsung uang itu, saya ada uang tapi di tabungan, ibu tidak usah hawatir, kata saya. Ini juga uang masih ada tapi sudah saya siapkan untuk saudara – saudara sepupu. Bagi saya, sekarang saatnya saya memberi uang ke orang tua, tidak menerima dari ortu.

Ibu masih tidak percaya kalo saya masih punya uang. Saya menjelaskan, nanti jika Bisnya berhenti isi bensin saya bisa ambil uang di ATM. Ibu akhirnya percaya. Begitulah kasih saying seorang ibu.

Setelah bertemu teman, saya langsung pulang ke ekaterinburg, saya sms ibu saya yang di Indonesia, bahwa saya terpaksa hanya menginap satau malam, tapi alkhamdulillah disana bisa ziarahke makam dan pergi kerumah nenek, bantu-bantu mencopot korden. Tapi sedih karena minggu depan tidak bisa bantu ngecat rumah.

Ibu Indonesia membalas, “ ya sudah, dari sekrang berdoa dan niat mudah-mudahan ada rezeki kesana lagi dan bisa membantu lagi, salam buat ibu Russia.”

Saya menelpon Oniem, menyampaikan salam dari ibu Indo dan memohon doa supaya selamat sampai tujuan dan bisa datang lagi.

o…2 Emak ku… love you all
Najib
semua ini buah dari persaudaraan yang kami bina atas nama Allah.

0 komentar: