
Di tempat saya hidup sekarang – Yekaterinburg – sering saya nangis batin. Bukan karena sedih terhadap apa yang menimpa saya, namun sedih karena keterbatasan atas apa yang saya miliki (kurang sabar).
Saya merasa berdosa kepada guru-guru pesantren saya. Saya terkadang flash back dan menanyakan kepada diri saya sendiri apakah saya pernah membuat kesal mereka. Sepertinya saya tidak pernah ngeyel sama guru-guru saya.
Dulu, jika sang guru bilang A saya akan manut, sang guru bilang B saya akan manut, karena saya percaya kalau guru tidak akan merugikan muridnya. Akhirnya saya hanya bisa istighfar dan mengirimkan fatikhah untuk guru-guru saya agar saya diberi barokah ilmu mereka.
Di sini saya sering bergaul dengan babushki (simbah-simbah), kebanyakan perempuan. Dan beberapa yang pemuda. Mayoritas mereka mempunyai karakter yang sama, yaitu ngeyel.
Bagi mereka yang tua ngeyelnya beragam; contoh… etnis masyarakat dimana saya hidup, sangat susah untuk mengucapkan kata ع (‘Ain), mereka menggantinya dengan huruf G. Kata ‘Alim (dalam logat arab), bagi mereka akan menjadi Galim. Assalamu’alaikum bagi mereka akan menjadi assalamugalaikum (lihat huruf yang saya garis bawah). Para simbah-simbah itu tidak bisa menerima hal baru yang saya bawa.
Terkadang mereka memaksa saya untuk mengucapkan huruf-huruf itu seperti bagimana mereka mengucapkannya. Lho ? Saya bercerita, bahwa teman-teman Russia saya semasa di Cairo, pada awalnya memiliki kesulitan yang sama untuk mengucapkan huruf ‘Ain tapi akhirnya mereka bisa.
Mereka masih saja ngeyel. Mereka bilang mungkin pronunciation saya yang salah. OMG, lima tahun saya hidup sama onta (meskipun tidak bisa berbahasa onta) apa masih juga saya yang salah.
Ngeyel yang lain tentang komentar kenapa kok huruf qolqolah harus nyekluk. Kenapa kok kalau saya baca al-qur’an seperti menyanyi (mereka mau bilang tartil, bagi mereka saya seperti menyanyi). Kenapa huruf nun jika bertemu Lam, tidak dibaca dll.
Pernah terjadi tawar menawar antara saya dengan simbah-simbah itu. Alangkah lebih bagusnya jika kita satu suara, karena simbah-simbah susah mengikuti saya, maka saya sebagai anak muda harus mengalah mengikuti mereka. Inikah sifat-sifat orang Russia (ngeyel)?
Saya menjawab, mbah, dalam huruf Hijaiyah (abjad arab) ada 28 huruf. Jika kita belajar al-qur’an kita akan bertemu dengan yang namanya ilmu Tajwid. Disana di bahas tentang Makhorijul huruf (tempat keluarnya huruf). Pasti nanti kita akan menemukan huruf yang ada dalam bahasa anda tapi tidak ada di bahasa arab, begitu juga sebaliknya.
Sekarang saya belajar bahasa Russia, abjad bahasa Russia terdiri 33 huruf. Sedangkan dalam abjad bahasa Indonesia hanya terdiri 26 huruf. Dalam bahasa Russia terdapat huruf-huruf yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Jika seperti ini, apakah saya harus tetap memakai logat bahasa saya atau saya harus mempelajari abjad bahasa Russia?
Saya sudah sering bilang kepada mereka, kalau memang susah juga tidak apa-apa. Allah maha tahu, namun yang harus anda tahu ini adalah ‘ain bukan Gain. Akhirnya kita bisa menyatukan dua suara.
Jika sedang capek kadang saya berhenti dan bercerita, dulu ketika guru saya bilang ini A maka saya akan ikut, jika B saya juga ikut. Sekarang mohon diam (dengan muka merah keluar asap dari telinga).
Ya kita harus memahami kondisi baik lingkungan ataupun personal. Pernah ada suatu nenek yang membaca مِنْ شَرِّ النَّفثَّتِ فِي العُقَدِ ada yang membaca huruf ف dengan huruf و . saya bilang, ulangi lagi ! si nenek membaca lagi dengan suara yang sama. Sampai beberapa kali tetap saja tidak berubah. Akhirnya saya mendekat… Si nenek langsung bilang “maaf saya tidak punya gigi depan”. Rasanya saya ingin ketawa.
lagi-lagi ini menyangkut tentang memahami budaya. kita sudah sering mendengar tentang sejarah mereka. Dulu dan sekarang pun sebagian mereka masih belajar lewat transkip. Kalimat arab namun ditulis dengan huruf mereka. Dari situ mungkin susah untuk menemukan padanan huruf.
Kita bisa menemukan berbagai cara dan metode praktis dalam mempelajari al-qur,an di Indonesia. Seperti Iqro’ , Qiroati, dari yang manual sampai yang komputerisasi.
Namun, tidak di Russia, disini masih memakai buku seperti Turutan . Ketika saya melihat buku ini, saya justru kebingungan bagaimana untuk menyampaikan. Karena buku ini tidaklah sistematis. Dua puluh delapan huruf hijaiyah dikenalkan hanya dalam setengah halaman pertama. Selanjutnya langsung penggabungan ke 28 huruf dalam bentuk kata dalam bahasa arab. Tidak seperti Iqro’ yang dalam satu halaman hanya menggunakan paling banyak 2 huruf. Supaya mudah dihafal.
Saya sudah mencari Iqro’a atau buku Qiro’ati versi PDF yang bisa di download, namun ternyata yang mau upload masih memikirkan dosa, seandainya mereka tahu bahwa dibelahan bumi utara, kami sangat membutuhkan.
Semoga ada angin segar setelah wakil Mufti kemarin mengunjungi Krapyak, setengah santri Huffadznya dikirim ke Russia, bikin deh PON PES KRAPYAK CABANG RUSSIA …selamat HUT 1 Abad KRAPYAK ku yang ku cinta….
Semoga saya bisa sabar terhadap ngeyel-ngeyel yang lain …
Kado khoul krapyak ; Tulisan ini saya persembahkan untuk keluarga besar putra putri lan wayah Alm mbah Munawwir dan Alm mbah Ali Maksum, guru – guru ku, terima kasih atas pengorbanan yang telah panjenengan berikan.
Mohon doa, smoga ananda bisa meneruskan cita dan harapan luhur panjenengan semua, amin.
Dan seluruh santri Krapyak (bil husus alumni 2003) bersama berjuang !!! percayalah, bahwa barokah itu ada, jika kalian ke Krapyak khoul tahun ini, salam ta’dzim ku untuk guru – guru kita. Mohon maaf, sejak lulus tahun 2003, saya lah yang tidak pernah datang …
Salam hangat,
Najib
Yekaterinburg, Sverdlovsk Oblast, Russia.
0 komentar:
Post a Comment