Melanjutkan study budaya eps wudhu, kesempatan kali ini saya akan menulis tentang pengalaman saya bagaimana saya dimarahi oleh seorang kakek karena adzan.
Singkatnya, muadzin utama masjid jami’ Yekaterinburg tidak hadir. Dan kebetulan saya duduk disamping imam masjid. Saya pun menyanggupinya ketika diminta untuk adzan. Akhirnya, saya adzan seperti layaknya orang Indonesia. Dan bagaimana saya melihat orang-orang di Mesir adzan.
Namun setelah sholat, salah satu kakek menghampiri, menarik tangan saya kemudian memarahi saya.
*stop ! saya harus memberi intro dulu tentang sang kakek ini.
Kakek ini termasuk jama’ah baru. Saya tidak pernah melihat sang kakek sebelumnya. Hari-hari pertama dia datang pun, dia sudah membuat olah dengan meminta pengurus masjid mecopot sajadah yang tergantung di tembok. Karena dai beralasan, bahwa jika sajadah tergantung di tembok, maka sama saja kita menyembah sajadah. Kemudian ada jamaah yang menjawab, berarti kita harus membuka dinding juga? Biar tidak dianggap menyembah dinding.
Pemasangan sajadah di tembok sebenarnya bertujuan sebagai penunjuk arah qiblat karena masjid ini tergolong baru dan masih sederhana.
Si kakek berkata bahwa adzan saya tidak sah. Alasannya, karena ketika mengucapkan hayya ‘ala solah dan hayya ‘alal falah saya tidak menghadap ke kanan dan ke kiri.
Saya hanya tersenyum ketika dimarahi. Kemudian saya menjawab, “kalau saya yang adzan, saya akan adzan dengan cara saya”. Si kakek tetap menuduh saya salah, dan saya harus mengikuti dia. Seorang di sampingnya bilang, lebih baik saya mengikuti kata si kakek, dan menghormatinya dan harus punya adab. Disini akhirnya saya EMOSI.
“ saya menghormati orang yang menghormati orang, mungkin kakek ini benar tapi saya ingin bilang, bahwa bukan hanya dia yang benar. Saya bisa saja mengikuti kata dia, tapi kalau dia tidak diberi pelajaran, dia akan selalu berpikir bahwa hanya dia yang benar.” Saya mulai menjawab dengan keras.
“Babai (kakek), anda pernah hidup dimana saja..? ” Tanya saya.
“Di Kazan…”
“Hebat, kek. Tidak kah anda tahu. Satu minggu saya di Tatarstan. 2 hari saya di Kazan. Di Kazan saya adzan di masjid madrasah Muhammadiyah, dan masjid Romadhon. Di desa Bua, saya adzan di dua masjid, bahkan saya adzan untuk sholat jum’at. Tidak ada yang complain, bahkan para imamnya pun tidak. Kenapa anda sewot ? Tantang saya”
Kemudian, saya mulai mengeluarkan kesombongan saya. Bahwa saya sejak kecil sudah belajar bla… bla… bla… bla… Sampai akhirnya dia memotong perkataan saya.
“Al-azhar kan syi’ah “
Dari situ saya mulai berpikir, tidak ada gunanya ngobrol sama si kakek. Pernyataan dia yang mengatakan bahwa Al- Azhar adalah syi’ah sudah cukup membuktikan isi kepala si kakek.
Di tempat saya hidup sekarang (saya yakin di sebagian besar wilayah Russia ) seorang muadzin memang menghadap ke kanan ketika mengucapkan lafal Hayya ‘ala solah dan ke kiri ketika menngucapkan hayya ‘alal falah.
Adzan adalah sunnah mu’akkadah (yang dikuatkan) yang berada di luar sholat. Tujuannnya adalah pemberitahuan akan masuknya waktu dan pelaksanaan sholat. Mulai di syari’atkan sejak awal setelah hijrah ketika muslim bertambah banyak dan mulai dirasakan sulit mengumpulkan masyarakat untuk sholat.
Saya menemukan penguat dari tradisi ini di kitab Fiqh al-muyassar, buku pegangan Madrasah Tsanawiyah Al-azhar. Disana menggunakan kata yustahaabu yang artinya lebih disukai.
Kemudian di bab sunnah adzan dalam kitab Fiqh ‘ala Al-madzahib Al-arba’ah saya menemukan bahwa anjuran utama bagi seorang muadzin adalah menghadap qiblat. Dan ketika hayya ‘ala sholah dan hayya ‘ala Al-falah, dianjurkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Menoleh berarti hanya bagian kepala saja, sedangkan tubuh masih tetap menghadap qiblat.
Jadi bukan lah suatu masalah, bagi seorang muadzin mau menoleh atau tidak. Kecuali jika menoleh kekanan/kekiri bisa menambah jumlah jama’ah. Maka hal itu wajib (lawong pake mic saja yang dating Cuma satu baris J)
Di sini juga Iqomat berbeda dengan Iqomat di Indonesia. Jika di Indonesia hanya terjadi pengulangan pada lafal qod qomat As-solat dan takbir. Maka dalam madzhab Hanafi, pengucapan Iqomat persis seperti adzan, terjadi pengulangan pada setiap lafal.
Bagi saya tidaklah masalah untuk mengikuti tradisi suatu kaum, bahkan bisa menjadi suatu keharusan. Asalkan masih dalam koridor.
Suatu contoh, saya selalu menanyakan apakah disini ketika membaca Al-fatihah Bismillah dibaca secara keras atau perlahan. Apakah disini memakai doa Qunut. Apakah doa adzan dibaca secara keras atau perlahan. Apakahh dzikir setelah solat dibaca bersama-sama atau sendiri-sendiri.
Ketika di Tatarstan, saat saya hendak adzan untuk sholat jum’ah, seorang ta’mir menjelaskan kepada saya bahwa tradisi di desa tersebut, doa setelah adzan di baca sendiri-sendiri dalam hati.
saya justru senang jika diberi tahu tentang tradisi suatu tempat, dengan tujuan untuk menghindari perdebatan, karena tidak semua orang faham tentang perbedaan tradisi.
Yang membuat saya kemudian emosi saat di masjid jami’ Yekaterinburg adalah, saya dimarahi di depan umum. Tidak ada tradisi yang membenarkan memarahi orang di depan umum. Hal ini tidak bisa di TOLERANSI J
Wa Allahu A’lam Bi As- Sowab
Salam
Najib
Yekaterinburg, sverdlovski oblast
0 komentar:
Post a Comment